Literasi Budaya Jadi Kunci Museum NTB Dukung Penuh Penerbitan Buku Wastra Lombok

  • 29 Jul 2026 16:35 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Tenun NTB
  • Buku Two Islands One Thread: Lombok and Bali Textiles from the Michael Abbott Collection
  • NTB Mendunia
  • SEJARAH TENUN NTB

RRI.CO.ID, Mataram - Literasi kebudayaan menjadi salah satu tantangan besar dalam upaya memperkenalkan kekayaan budaya Nusa Tenggara Barat kepada dunia. Hal itulah yang mendorong Museum Negeri Nusa Tenggara Barat memberikan dukungan penuh terhadap penyusunan buku Two Islands One Thread: Lombok and Bali Textiles from the Michael Abbott Collection. Hal tersebut disampaikan dalam Program Berugak Kita Pro 4 RRI Mataram yang menghadirkan Kurator Seni Asia Tenggara asal Australia Dr. James Bennett bersama Kepala Museum Negeri Nusa Tenggara Barat Dr. Ahmad Nur Alam.

Dalam perbincangan tersebut, Dr. Ahmad Nur Alam menjelaskan bahwa Museum Negeri NTB langsung menyambut baik ajakan kolaborasi dari Dr. James Bennett sejak awal proyek dimulai. Menurutnya, kesempatan tersebut merupakan momentum penting untuk memperkaya literatur mengenai budaya daerah yang selama ini masih sangat terbatas.

"Ketika Pak James Bennett menyampaikan rencana kegiatan ini, kami langsung menyatakan siap membantu sepenuhnya. Kami all out karena salah satu persoalan besar di Nusa Tenggara Barat adalah literasi kebudayaan yang masih sangat kurang," ujarnya.

Ia menambahkan, minimnya referensi ilmiah mengenai budaya NTB, khususnya kain tradisional Lombok, menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diatasi. Selama ini, berbagai penelitian memang telah membahas Pulau Lombok dari berbagai sudut pandang, namun belum banyak yang secara khusus mengangkat wastra sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Sasak. Karena itu, kehadiran buku tersebut dinilai mampu mengisi kekosongan literatur yang selama ini dirasakan oleh akademisi maupun pemerhati budaya.

"Yang paling membanggakan adalah buku ini diterbitkan oleh institusi luar negeri sehingga akan menjadi literatur internasional mengenai kain Lombok. Setahu kami, belum ada publikasi internasional yang secara khusus membahas kain Lombok secara komprehensif," kata Ahmad Nur Alam.

Menurutnya, semakin banyak referensi yang tersedia, maka semakin besar pula peluang budaya daerah dikenal oleh masyarakat global sekaligus menjadi sumber pembelajaran bagi generasi muda.

Sementara itu, Dr. James Bennett menegaskan bahwa sejak awal dirinya tidak ingin buku tersebut hanya menjadi karya seorang peneliti asing. Ia justru mengajak sebanyak mungkin penulis Indonesia, khususnya dari Lombok, agar isi buku benar-benar lahir dari pengalaman dan pemahaman masyarakat setempat.

"Kalau dulu orang asing yang banyak menulis tentang Indonesia mungkin hal yang biasa. Tetapi sekarang saya merasa sudah seharusnya orang Indonesia ikut menulis tentang budayanya sendiri," ungkap Bennett.

Menurut Bennett, kolaborasi tersebut menghasilkan perspektif yang jauh lebih kaya. Para penulis lokal melakukan penelitian lapangan, berdialog dengan para penenun, tokoh adat, hingga masyarakat di berbagai wilayah Lombok. Hasilnya bukan sekadar kumpulan data sejarah, melainkan cerita yang lahir dari pengalaman hidup masyarakat. Ia bahkan menilai tulisan para penulis Sasak memiliki kekuatan tersendiri karena disampaikan secara alami, jujur, dan dekat dengan realitas budaya yang mereka jalani sehari-hari.

Melalui kolaborasi lintas negara ini, Museum Negeri NTB berharap upaya pelestarian budaya tidak berhenti pada penyimpanan koleksi di ruang pamer, tetapi juga berkembang menjadi karya ilmiah yang dapat diakses masyarakat dunia. Kehadiran buku Two Islands One Thread menjadi bukti bahwa sinergi antara peneliti internasional dan putra daerah mampu melahirkan literatur berkualitas yang memperkuat posisi wastra Lombok sebagai bagian penting dari warisan budaya Indonesia di mata dunia.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....