Tradisi Bancakan, Ritual Syukur Masyarakat Jawa
- 22 Jul 2026 12:02 WIB
- Mataram
Di tengah pesatnya perkembangan zaman, masyarakat Jawa masih menjaga berbagai tradisi yang sarat makna. Salah satunya adalah bancakan, tradisi syukuran yang hingga kini masih lestari di Kota Solo dan berbagai daerah di Jawa. Bancakan bukan sekadar kegiatan makan bersama, tetapi juga menjadi wujud rasa syukur kepada Tuhan, doa untuk keselamatan, serta sarana mempererat hubungan antarmasyarakat.
Dalam buku digital Bancakan yang diterbitkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dijelaskan bahwa bancakan merupakan tradisi masyarakat Jawa yang umumnya dilakukan untuk memperingati hari kelahiran seseorang atau momentum penting lainnya. Tradisi ini diawali dengan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan pembagian hidangan kepada keluarga, tetangga, maupun anak-anak di lingkungan sekitar sebagai simbol berbagi rezeki dan kebahagiaan.
| Baca juga: Tradisi Refleksi Diri pada Malam 1 Suro |
Hidangan dalam bancakan memiliki ciri khas tersendiri. Sajian utamanya berupa nasi yang disertai urap dari sayuran hijau dengan parutan kelapa berbumbu, dilengkapi aneka lauk sederhana. Kesederhanaan menu tersebut mencerminkan nilai kehidupan masyarakat Jawa yang mengutamakan rasa syukur dibanding kemewahan. Seluruh peserta menikmati hidangan bersama tanpa membedakan latar belakang maupun status sosial.
Di Solo, tradisi bancakan masih dapat dijumpai dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat. Bancakan kerap menjadi bagian dari peringatan weton, syukuran atas pencapaian tertentu, hingga doa bersama menjelang berbagai fase penting dalam kehidupan. Keberlangsungannya menunjukkan bahwa nilai gotong royong, kepedulian, dan kebersamaan tetap dijaga sebagai bagian dari budaya Jawa yang hidup di tengah masyarakat.
| Baca juga: Festival Peresean Kembang Kuning Ditutup |
Bagi sebagian masyarakat Jawa, bancakan juga memiliki dimensi spiritual yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini dipercaya sebagai ikhtiar untuk memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar seseorang diberikan keselamatan, kesehatan, kelancaran rezeki, dan dijauhkan dari berbagai marabahaya. Dalam tradisi weton, bancakan menjadi salah satu bentuk ungkapan syukur sekaligus permohonan agar kehidupan berjalan harmonis. Kepercayaan tersebut merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat Jawa yang masih dipraktikkan hingga kini dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Kepercayaan tersebut juga selaras dengan filosofi masyarakat Jawa yang menjunjung keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Karena itu, bancakan tidak hanya dipandang sebagai tradisi makan bersama, tetapi juga menjadi media memperkuat silaturahmi, menumbuhkan kepedulian sosial, serta mengingatkan pentingnya hidup dalam kebersamaan dan rasa syukur.
Hingga kini, bancakan terus dikenalkan kepada generasi muda melalui berbagai media literasi, salah satunya buku digital yang diterbitkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman masyarakat mengenai tradisi lokal sekaligus mendorong pelestarian budaya sebagai bagian dari identitas bangsa Indonesia. Di tengah arus modernisasi, keberadaan bancakan menjadi bukti bahwa nilai-nilai luhur seperti gotong royong, kebersamaan, dan rasa syukur tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. (RRI/Irene Dyah)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....