Sosialisasi Perawatan Koleksi Perdana: Museum NTB Pilih Desa Barabali

  • 10 Mei 2026 15:30 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Museum Negeri NTB memilih Desa Barabali sebagai lokasi perdana kegiatan sosialisasi perawatan benda-benda pusaka peninggalan masyarakat yang diagendakan berlangsung dua kali dalam setahun.

Kepala Seksi Pengkajian dan Perawatan Museum Negeri NTB, Aulia Rahman Adiputra, dalam dialog bersama Museum NTB pada acara Berugak Kita bertema Sosialisasi Perawatan Koleksi Perdana, Senin 4 Mei 2026, menjelaskan bahwa pemilihan Desa Barabali dilakukan setelah melalui proses pemetaan dan survei. Selain itu, desa tersebut dinilai sejalan dengan konsep pembangunan masyarakat desa melalui program Desa Berdaya.

“Kami melakukan pemetaan dan survei. Sosialisasi ini kenapa perdana di Desa Barabali karena desa ini sudah terkoneksi dengan Desa Berdaya. Jadi dari 2026 ada 40 desa berdaya, salah satunya Desa Barabali ini,” ungkapnya.

Dalam kegiatan tersebut, Museum NTB memberikan edukasi kepada masyarakat terkait cara merawat koleksi pusaka dan artefak agar tetap terjaga dari kerusakan.

“Kegiatan sosialisasi ini mencakup melakukan perawatan koleksi untuk melindungi pusaka dan artefak yang ada di tengah masyarakat agar masyarakat juga tahu caranya,” lanjutnya.

Desa Barabali dinilai memiliki potensi budaya yang kuat sehingga menjadi salah satu alasan utama dipilih sebagai lokasi kegiatan perdana. Salah satu peninggalan budaya yang menarik perhatian adalah Rumah Beleq atau rumah tua yang menyimpan koleksi berusia ratusan tahun.

Menurut Aulia, rumah adat tersebut hanya dapat dikunjungi pada hari Rabu karena berkaitan dengan aturan adat setempat.

“Selain perawatan koleksi benda pusaka di sana, kami juga mendapat kesempatan mengunjungi Rumah Beleq atau rumah tua di sana, dan cukup unik sehingga menjadi alasan perawatan di hari Rabu terkait akses ke sana. Alasannya berdasarkan perhitungan adat di sana juga koleksi Rumah Beleq dengan usia ratusan tahun, dan kami berusaha untuk membersihkan koleksi agar terhindar dari kerusakan,” jelasnya.

Ia menuturkan bahwa menjaga dan merawat benda peninggalan bersejarah bukan perkara mudah. Karena itu, Museum Negeri NTB berupaya memberikan pemahaman kepada masyarakat agar dapat merawat koleksi pusaka yang dimiliki secara mandiri.

Sosialisasi tersebut dilaksanakan di kantor desa dengan menghadirkan berbagai jenis benda pusaka milik masyarakat.

“Sosialisasi perawatan kami lakukan di kantor desa. Ada beberapa koleksi di sana, ada dua bokor atau nampan dari bahan kuningan, ada naskah lontar, ada senjata seperti keris, ada juga kain tua dan gerabah,” tambahnya.

Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari masyarakat Desa Barabali. Warga mengaku mendapatkan pengetahuan baru mengenai tata cara menjaga dan merawat benda pusaka peninggalan keluarga maupun desa.

“Tanggapan masyarakat Desa Barabali sangat positif dan mereka berharap selain ilmu yang kami bagikan, masyarakat juga membutuhkan bahan-bahan untuk perawatan karena kami selain memberikan pemahaman juga membagi bahan perawatan untuk menjaga koleksi,” ungkapnya.

Aulia juga menjelaskan bahwa beberapa bahan perawatan koleksi tergolong sulit diperoleh masyarakat karena memerlukan izin khusus dalam pembeliannya.

“Bahan yang sulit didapat untuk perawatan ada bahan kimia, ada alkohol juga. Itu memerlukan surat izin sehingga cukup menyulitkan untuk masyarakat jika membeli dengan jumlah besar, tapi kalau sedikit masih mungkin. Jadi kami berbagi beberapa bahan untuk membersihkan dan merawat koleksi-koleksi pusaka,” tambahnya.

Museum Negeri NTB berharap pelestarian dan perlindungan benda-benda pusaka tidak hanya menjadi tanggung jawab museum semata. Melalui kegiatan sosialisasi ini, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya merawat benda pusaka sebagai bagian dari identitas budaya yang bernilai bagi generasi mendatang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....