Bagaimana Inovasi Tenun Sasak di Era Perkembangan Zaman?
- 07 Apr 2026 22:06 WIB
- Mataram
Poin Utama
- TENUN KHAS LOMBOK
- DESA SUKARARA LOMBOK TENGAH
RRI.CO.ID, Mataram - Di tengah arus perkembangan zaman yang begitu cepat, tradisi menenun di Desa Sukerare tidak hanya bertahan, tetapi juga mulai beradaptasi dengan berbagai perubahan. Inovasi menjadi salah satu langkah yang dilakukan masyarakat agar tenun tetap relevan tanpa kehilangan jati dirinya. Dalam obrolan budaya Pro4 RRI Mataram, Liatera Amin yang akrab disapa Amin membagikan pandangannya tentang bagaimana inovasi ini berjalan di tengah masyarakat.
Amin merupakan pengelola Patuh Artshop di Desa Sukerare, Lombok Tengah menyebutkan bahwa melalui artshop yang dikelola, pihaknya tidak hanya menjual produk tenun, tetapi juga menjadi jembatan antara penenun dan pasar, termasuk wisatawan yang datang dari berbagai daerah. Dari pengalaman itulah, dirinya melihat langsung bagaimana kebutuhan pasar terus berkembang dan menuntut adanya penyesuaian.
Saat berbincang dengan Beny di sela aktivitas di artshop, Amin menjelaskan bahwa inovasi bukan berarti meninggalkan tradisi, melainkan mencari cara agar tradisi tetap bisa diterima oleh masyarakat luas, khususnya generasi muda.
“Kalau kita tidak mengikuti perkembangan, nanti tenun ini bisa ditinggalkan. Jadi kita harus bisa menyesuaikan,” ujarnya.
Ia kemudian menjelaskan bahwa bentuk inovasi yang dilakukan lebih banyak pada pengembangan produk. Jika sebelumnya tenun hanya berupa kain untuk kebutuhan adat atau pakaian, kini telah berkembang menjadi berbagai produk yang lebih fungsional dalam kehidupan sehari-hari.
“Sekarang kita buat macam-macam, ada tas, dompet, selendang, bahkan sampai perlengkapan rumah tangga. Supaya lebih banyak yang bisa pakai,” tambah Amin.
Menurutnya, langkah ini cukup efektif dalam menarik minat pasar yang lebih luas. Produk yang lebih variatif membuat tenun tidak hanya dilihat sebagai barang budaya, tetapi juga sebagai produk yang bisa digunakan dalam kehidupan modern.
Namun dalam percakapan tersebut, Amin menegaskan bahwa inovasi tidak boleh menghilangkan identitas budaya yang menjadi kekuatan utama tenun Sukerare. Motif-motif tradisional tetap dipertahankan sebagai ciri khas yang membedakan dari produk lain.
“Kita boleh ubah bentuknya, tapi motifnya tetap kita jaga. Itu yang jadi identitas kita,” jelasnya.
| Baca juga: Kalau Identitas Hilang, Tenun Tinggal Cerita |
Langkah ini menjadi contoh bagaimana budaya bisa tetap hidup tanpa harus kaku terhadap perubahan. Ia melihat bahwa inovasi yang dilakukan justru membuka peluang baru tanpa menghilangkan nilai lama.
Ia juga menambahkan bahwa inovasi ini berdampak pada meningkatnya minat generasi muda terhadap tenun. Dengan tampilan yang lebih modern, produk tenun menjadi lebih dekat dengan gaya hidup mereka.
“Kalau tampilannya lebih sesuai dengan zaman sekarang, anak muda jadi lebih tertarik. Itu penting untuk keberlanjutan,” ujarnya.
Melalui obrolan tersebut, terlihat bahwa inovasi di Sukerare bukan sekadar strategi ekonomi, tetapi juga menjadi cara untuk menjaga tradisi tetap hidup di tengah perubahan zaman. Dengan tetap berpegang pada nilai budaya, masyarakat mampu membuktikan bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan berdampingan tanpa saling menghilangkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....