Musim Haji, Harga Sembako dan Infrastruktur Jalan, Sorotan Warga NTB di Hallo RRI

  • 11 Mei 2026 09:16 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Suasana musim haji kembali menghadirkan warna tersendiri dalam kehidupan masyarakat di Pulau Lombok. Di tengah kesibukan para calon jamaah mempersiapkan keberangkatan ke Tanah Suci, tradisi “rowah” atau doa bersama digelar hampir setiap hari di berbagai kampung.

Tradisi yang sarat makna silaturahmi itu mempertemukan keluarga, tetangga, dan sahabat dalam suasana hangat penuh doa. Namun di balik khidmatnya persiapan ibadah haji, masyarakat juga dihadapkan pada persoalan lain yang tak kalah penting, yakni naiknya harga kebutuhan pokok dan kondisi infrastruktur yang masih menjadi keluhan warga.

Melalui program Hallo RRI yang disiarkan Senin, 11 Mei 2026 pukul 09.00–10.00 Wita, masyarakat memanfaatkan ruang pengaduan publik tersebut untuk menyampaikan berbagai keresahan yang mereka alami sehari-hari.

Banyak warga menilai meningkatnya aktivitas doa bersama ikut mendorong naiknya permintaan bahan kebutuhan pokok di pasar. Harga daging ayam misalnya, disebut telah mencapai Rp40 ribu per kilogram. Sementara harga minyak goreng juga mengalami kenaikan cukup signifikan.

Pantauan di lapangan memperlihatkan antrean ibu-ibu rumah tangga di depan kantor Bulog demi mendapatkan minyak goreng dan beras dengan harga yang lebih terjangkau.

Di sisi lain, perhatian masyarakat juga tertuju pada kondisi infrastruktur jalan di Pulau Sumbawa, khususnya ruas jalan Lenangguar. Saat musim hujan, jalan tersebut kerap dipenuhi lumpur dan pasir sehingga menghambat aktivitas warga serta distribusi hasil pertanian.

Sebelumnya, Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal menegaskan pembangunan ruas jalan Lenangguar ditargetkan selesai pada akhir Mei 2026.

“Pemerintah tidak hanya fokus pada pengaspalan, tetapi juga memperhatikan mitigasi bencana dan perlindungan konektivitas ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Gubernur juga turun langsung meninjau kondisi lapangan, termasuk melihat titik rawan longsor, sistem drainase, hingga lereng yang berpotensi membahayakan pengguna jalan. Sejumlah alat berat telah dikerahkan untuk memperbaiki ruas jalan tersebut agar segera layak digunakan.

Bagi masyarakat NTB, jalan bukan sekadar sarana penghubung. Jalan merupakan urat nadi ekonomi. Dari sanalah hasil panen diangkut, perdagangan bergerak, dan roda kehidupan masyarakat berputar.

Karena itu, keterlambatan perbaikan infrastruktur dikhawatirkan akan memicu hambatan distribusi hasil pertanian yang pada akhirnya berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok. (RRI/UKI)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....