Empati di Balik Kunjungan Bhayangkari NTB ke SLBN 1 Lombok Utara
- 11 Apr 2026 08:12 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID – Lombok Utara : Jumat 10 April 2026 pagi, di SLB Negeri 1 Lombok Utara, suasana terasa berbeda. Bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan perjumpaan yang perlahan mengaduk rasa—antara haru, empati, dan harapan yang tumbuh diam-diam di sudut-sudut ruang kelas.
Ketika Ny. Uty Edy Murbowo, Ketua Pengurus Yayasan Kemala Bhayangkari NTB, melangkah masuk ke halaman sekolah, senyum anak-anak berkebutuhan khusus menyambut hangat. Namun, tak lama kemudian, suasana berubah menjadi hening yang sarat makna.
Di hadapan para tamu, beberapa siswa menampilkan puisi dan musikalitas sederhana. Suara mereka mungkin tak selalu lantang, gerak mereka mungkin tak selalu sempurna, tetapi pesan yang disampaikan justru begitu dalam. Hingga akhirnya, satu bait puisi menggema pelan namun menghujam:
“Kami dilahirkan, namun tak diinginkan,” ujarnya.
Kalimat itu seolah menghentikan waktu. Mata Ny. Uty berkaca-kaca. Air mata tak lagi bisa ditahan. Di hadapan anak-anak itu, ia tak berdiri sebagai seorang pemimpin organisasi, melainkan sebagai seorang ibu yang hatinya tersentuh.
Ia pun mendekat. Satu per satu anak dipeluknya dengan hangat—pelukan yang mungkin sederhana, tetapi menyimpan pengakuan: bahwa mereka dilihat, diterima, dan dicintai.
“Kalian adalah anak-anak yang kuat, hebat, dan membanggakan,” ucapnya lirih namun tegas. “Teruslah bermimpi. Jangan pernah merasa berbeda, karena setiap dari kalian istimewa.”
Di ruang itu, kata-kata bukan lagi sekadar motivasi. Ia menjadi penguat—bahwa keterbatasan bukan akhir dari kemungkinan.

Kunjungan tersebut tak berhenti pada ungkapan empati. Bhayangkari NTB menghadirkan kepedulian dalam bentuk nyata: kursi roda, tongkat untuk tunanetra, alat bantu dengar, hingga perlengkapan bermain dan belajar. Bantuan itu mungkin terukur secara materi, tetapi maknanya jauh melampaui angka—ia adalah bentuk kehadiran.
Lebih dari itu, Ny. Uty juga menangkap satu nilai yang ia bawa pulang dari pertemuan tersebut. Sebuah kalimat yang disampaikan Kepala Sekolah, sederhana namun dalam: tak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia.
Kalimat itu menjadi penegas—bahwa setiap anak, dengan segala keunikannya, lahir dengan tujuan. Bukan untuk dibandingkan, apalagi disisihkan, melainkan untuk tumbuh dengan cara mereka sendiri.
Di sisi lain, Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara, Ny. Heny Agus Purwanta, mengingatkan bahwa perhatian terhadap anak-anak berkebutuhan khusus tak boleh berhenti di ruang sekolah. Mereka membutuhkan lingkungan yang menerima—di rumah, di masyarakat, dan di setiap ruang kehidupan.
“Pendampingan harus berkelanjutan. Ini tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Di tengah rangkaian kegiatan, penandatanganan prasasti sejumlah fasilitas sekolah turut dilakukan. Namun, lebih dari sekadar peresmian bangunan, yang terbangun hari itu adalah jembatan rasa—antara mereka yang selama ini kerap terpinggirkan dengan mereka yang mulai membuka hati.
Pihak sekolah pun menyambut hangat kunjungan tersebut. Bagi mereka, kehadiran Bhayangkari bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga pengakuan—bahwa anak-anak ini ada, berharga, dan layak diperjuangkan.
Di akhir kunjungan, tak ada tepuk tangan yang riuh. Yang tersisa justru keheningan yang penuh makna.
Sebab dari tempat sederhana itu, sebuah pelajaran besar mengalir: bahwa empati bukan sekadar rasa iba, melainkan keberanian untuk hadir, mendengar, dan merangkul tanpa syarat.
Dan mungkin, dari pelukan-pelukan hangat pagi itu, dunia kecil anak-anak tersebut menjadi sedikit lebih luas—dan sedikit lebih ramah. (Sary/RRI)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....