Direktur Poltekkes Mataram Apresiasi Program CKG dari Pemerintah Pusat
- 25 Feb 2026 09:37 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dinilai sebagai momentum penting dalam membangun budaya kesehatan preventif di Nusa Tenggara Barat (NTB). Pelaksanaan yang digelar sejak Februari 2025 oleh pemerintah pusat ini menunjukkan respons yang terus meningkat dari masyarakat.
Politeknik Kesehatan Kemenkes Mataram menjadi salah satu institusi yang aktif mendukung implementasi program tersebut. Kolaborasi dengan 12 puskesmas yang difasilitasi Dinas Kesehatan Provinsi memperluas jangkauan layanan hingga menyasar masyarakat umum dan mahasiswa.
Direktur Poltekkes Mataram, Dr. dr. Yopi Harwinanda Ardesa, M.Kes., menyebut program pemerintah pusat ini sebagai langkah konkret menggeser paradigma lama yang berorientasi pada pengobatan.
“Selama ini masyarakat datang ke fasilitas kesehatan ketika sudah sakit. Program ini mengubah cara pandang itu, bahwa saat sehat pun perlu dilakukan pemeriksaan, sebagai upaya pencegahan” jelasnya, Rabu 25 Februari 2026.
Ia menjelaskan, tahun 2025 Poltekkes Kemenkes Mataram menjadi tuan rumah HKN NTB ke 61, dalam satu kali Pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis, jumlah peserta mencapai 1.111 orang. Angka tersebut mencerminkan meningkatnya kesadaran publik setelah memahami tujuan program.
Deteksi dini, menurutnya, menjadi instrumen krusial dalam menekan beban penyakit kronis. Hipertensi, kolesterol tinggi, hingga diabetes dapat diidentifikasi sejak tahap awal sebelum berkembang menjadi komplikasi.
| Baca juga: Lima Klinik TNI-Polri Dukung CKG di Mataram |
“Kalau diketahui sejak pre-hipertensi, penanganannya jauh lebih mudah dan murah. Negara juga tidak terbebani biaya pengobatan jangka panjang,” katanya.
Kendala utama yang dihadapi berada pada ketersediaan bahan habis pakai untuk pemeriksaan laboratorium sederhana. Namun pemeriksaan vital seperti tekanan darah dan antropometri tetap dapat berjalan.
“Cek tekanan darah, berat badan, dan lingkar perut sudah memberi gambaran awal risiko kesehatan,” ungkapnya.
Dr. Yopi menilai keberlanjutan program menjadi faktor penentu keberhasilan. Konsistensi pelaksanaan akan membentuk kebiasaan baru di masyarakat.
“Kalau hanya sesaat, dampaknya tidak signifikan. Harus terus dilakukan agar menjadi budaya,” ujarnya.
Di internal kampus, pemeriksaan juga dilakukan secara periodik setiap tiga bulan bagi pegawai. Langkah ini menjadi contoh bahwa institusi pendidikan kesehatan harus menjadi role model.
Kesadaran kolektif, menurutnya, menjadi fondasi pembangunan kesehatan jangka panjang. Semakin dini masyarakat memahami kondisi tubuhnya, semakin kuat daya tahan sosial terhadap penyakit tidak menular.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....