Silent Treatment: saat Diam Menjadi Senjata dalam Hubungan
- 20 Sep 2026 22:19 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Silent treatment adalah perilaku ketika seseorang sengaja menahan komunikasi atau mengabaikan orang lain, biasanya ketika sedang terjadi konflik demikian di lansir dari lamanhealth.clevelandclinic.org. Bentuknya bisa berupa tidak menjawab pertanyaan, tidak membalas pesan, menghindari percakapan, atau bersikap seolah-olah orang lain tidak ada. Namun, diam tidak selalu berarti seseorang sedang menghukum; ada kalanya seseorang memang sedang kewalahan secara emosional dan membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.
Sebagaimana dikutip dari laman www.gottman.com Yang membedakan silent treatment dengan sekadar mengambil waktu untuk menenangkan diri adalah tujuan dan cara melakukannya. Jika seseorang mengatakan, misalnya, “Saya sedang emosi, saya butuh waktu sebentar. Nanti kita bicara lagi,” itu berbeda dengan sengaja mengabaikan pasangan agar merasa bersalah atau terpaksa meminta maaf. Gottman Institute juga membedakan stonewalling—menutup diri karena merasa kewalahan—dengan silent treatment yang lebih berupa penolakan komunikasi secara sengaja.
Bagi orang yang menerimanya, silent treatment dapat terasa sangat menyakitkan. Seseorang bisa menjadi cemas, bingung, marah, merasa bersalah, bahkan mulai mempertanyakan apa yang sebenarnya telah dilakukan. Cleveland Clinic menjelaskan bahwa pengalaman diabaikan atau ditolak dapat memicu respons psikologis dan tubuh karena manusia secara alami membutuhkan hubungan sosial.
Dilansir juga dari laman www.apa.org Silent treatment juga dapat menjadi pola komunikasi yang tidak sehat apabila terus berulang. Ketika konflik selalu diakhiri dengan diam tanpa penyelesaian, masalah sebenarnya tidak hilang; hanya berhenti dibicarakan. American Psychological Association menempatkan komunikasi dan kemampuan menyelesaikan konflik sebagai bagian penting dalam hubungan, serta mencatat bahwa stonewalling atau memberikan silent treatment bukan cara yang baik untuk menangani konflik.
Dalam beberapa keadaan, silent treatment bahkan dapat menjadi bagian dari perilaku yang bersifat manipulatif atau emosional abusif, terutama jika sengaja digunakan untuk menghukum, mengontrol, mempermalukan, atau membuat pasangan melakukan sesuatu yang diinginkan. Namun, tidak setiap orang yang diam sedang melakukan kekerasan emosional. Motivasi, pola perilaku, dan konteks hubungan perlu diperhatikan.
Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan ketika menghadapi silent treatment? Cobalah tidak langsung membalas dengan kemarahan atau melakukan silent treatment balik. Berikan ruang jika orang tersebut memang sedang membutuhkan waktu, tetapi tetap sampaikan dengan tenang bahwa masalah perlu dibicarakan. Komunikasi yang lebih sehat dapat menggunakan kalimat seperti, “Saya mengerti kamu sedang butuh waktu. Kalau sudah siap, mari kita bicarakan baik-baik.” Pendekatan mengambil jeda kemudian kembali berdiskusi juga direkomendasikan dalam pendekatan komunikasi pasangan.
Pada akhirnya, diam untuk menenangkan diri dan diam untuk menghukum adalah dua hal yang berbeda. Dalam hubungan yang sehat, seseorang boleh meminta waktu untuk menenangkan emosi, tetapi sebaiknya ada kejelasan bahwa komunikasi akan dilanjutkan. Jika silent treatment sudah menjadi pola berulang, membuat seseorang merasa takut atau tertekan, atau muncul bersama bentuk kekerasan lainnya, mencari bantuan dari profesional kesehatan mental atau layanan dukungan dapat menjadi langkah yang tepat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....