Puber Kedua: Mitos atau Perubahan di Usia Dewasa?
- 28 Agt 2026 12:11 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado -Istilah “puber kedua” cukup populer di masyarakat untuk menggambarkan perubahan perilaku, emosi, fisik, atau ketertarikan seseorang ketika memasuki usia dewasa atau paruh baya. Namun, secara medis sebenarnya tidak ada istilah “pubertas kedua”.
Dikutip dari laman www.alodokter.com Pubertas merupakan proses biologis yang terjadi ketika seseorang beranjak dari masa kanak-kanak menuju kematangan seksual. Perubahan yang muncul di usia dewasa lebih tepat dilihat dari faktor hormonal, psikologis, maupun perubahan kehidupan.
Lalu, mengapa istilah ini begitu sering digunakan? Pada usia paruh baya, seseorang memang dapat mengalami berbagai perubahan. Ada yang mulai lebih memperhatikan penampilan, mengalami perubahan suasana hati, mempertanyakan kembali tujuan hidup, atau merasakan perubahan dalam hubungan dan ketertarikan seksual. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan midlife crisis, perubahan lingkungan kehidupan, maupun proses penuaan yang normal.
Dilansir juga dari laman www.who.int Pada perempuan, perubahan yang sering dianggap sebagai “puber kedua” dapat berhubungan dengan perimenopause, yaitu masa transisi menuju menopause. Perubahan hormon selama periode ini dapat menyebabkan siklus menstruasi berubah, muncul rasa panas (hot flushes), berkeringat pada malam hari, gangguan tidur, perubahan suasana hati, hingga kekeringan vagina. WHO menyebut bahwa menopause secara alami paling sering terjadi antara usia 45–55 tahun, meskipun pengalaman setiap perempuan dapat berbeda.
Sementara pada laki-laki, bertambahnya usia juga dapat disertai perubahan hormon dan kondisi fisik. Namun, perubahan tersebut tidak berarti seseorang kembali mengalami pubertas seperti saat remaja. Faktor psikologis, gaya hidup, kondisi hubungan, pekerjaan, serta perubahan hormon dapat berinteraksi dan memengaruhi perasaan maupun perilaku seseorang di usia dewasa. Karena itu, menyebut setiap perubahan perilaku sebagai “puber kedua” tentu terlalu menyederhanakan persoalan.
Yang terpenting, perubahan pada usia dewasa tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang memalukan. Justru, masa ini bisa menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kesehatan, hubungan, pekerjaan, gaya hidup, dan tujuan hidup. Jika muncul keluhan fisik atau emosional yang menetap dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya jangan hanya menyebutnya sebagai “puber kedua”, tetapi pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar penyebabnya dapat diketahui dengan tepat.
Kesimpulannya, “puber kedua” lebih merupakan istilah populer daripada istilah medis. Perubahan yang terjadi ketika seseorang memasuki usia dewasa atau paruh baya memang nyata, tetapi penyebabnya bisa beragam—mulai dari perubahan hormon, proses penuaan, hingga kondisi psikologis dan perubahan kehidupan. Jadi, bukan berarti seseorang benar-benar kembali “puber”, melainkan sedang memasuki fase kehidupan dengan tantangan dan perubahan yang berbeda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....