Peran Generasi Muda dalam Melestarikan Kearifan Lokal

  • 13 Jul 2024 11:27 WIB
  •  Manado

KBRN, Manado: Kearifan lokal adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Dalam bahasa asing kearifan lokal disebut juga local wisdom.

Semakin berkembang dunia, semakin maju sains, semakin terlihat sains modern mengobyektifkan semua kehidupan alamiah dan batiniah, sehingga mengakibatkan hilangnya unsur "nilai" dan "moralitas". Sains modern menganggap unsur "nilai" dan "moralitas" sebagai unsur yang tidak relevan untuk memahami ilmu pengetahuan.

Penting dicatat, kehadiran kearifan lokal bukanlah hal yang baru dalam kehidupan kita sehari-hari. Kearifan lokal hadir bersamaan dengan terbentuknya masyarakat kita, masyarakat Indonesia. Eksistensi kearifan lokal menjadi cermin nyata dari apa yang kita sebut sebagai hukum yang hidup dan tumbuh dalam masyarakat.

Mengutip laman djkn.kemenkeu.go.id, sesuai laporan The World Conservation Union (1997), dari sekitar 6.000 kebudayaan di dunia, 4.000 - 5.000 di antaranya adalah masyarakat adat. Ini berarti, masyarakat adat merupakan 70 - 80 persen dari semua masyarakat di dunia. Dari jumlah tersebut, sebagian besar berada di Indonesia yang tersebar di berbagai kepulauan.

Menjadi tantangan yang tidak mudah diatasi, mempertahankan kearifan lokal khususnya di kalangan generasi muda yang hidupnya langsung bersentuhan dengan kemajuan teknologi yang pesat. Gempuran budaya asing yang begitu mudahnya masuk, perlahan namun pasti menggerus kearifan lokal yang sudah dijaga turun temurun.

Tokoh Pemuda Minahasa sekaligus Pimpinan Organisasi Pemuda Gereja, Pnt. Filisthea Wonte, S.Pd seperti yang terungkap dalam Dialog "Magota Bacirita" Korwil Nusantara V yang diselenggarakan RRI Manado, RRI Gorontalo, RRI Tahuna, dan RRI Talaud mengatakan, "Perubahan itu pasti. Mau tidak mau, siap tidak siap kita harus menghadapi dan beradaptasi dengannya," kata Thea, sapaan akrab pemuda asal Langowan tersebut.

"Terkait kearifan lokal, tantangannya di era sekarang bagi generasi muda adalah bagaimana kita mempertahankannya. Kearifan lokal harus dijaga, itu adalah kekayaan kita. Salah satu caranya adalah tidak malu untuk mempelajari kearifan lokal itu sendiri, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, Mapalus, aktif mempercakapkan bahasa daerah, giat memperkenalkan kearifan lokal dan potensi daerah di media sosial, dan lain sebagainya," katanya.

Di era teknologi maju saat ini, kearifan lokal tetap memiliki nilai penting meskipun dihadapkan pada perubahan dan tantangan baru. Dan pemuda yang adalah generasi harapan bangsa, memiliki peran penting sebagai pewaris tradisi, inovator, dan duta budaya. Kemajuan teknologi baiknya jangan dianggap sebagai dinding penghalang tapi justru bisa menjembatani penyebarluasan pengetahuan tentang tradisi, menciptakan inovasi dalam pelestarian, dan mengenalkan budaya lokal kepada dunia luar.

Pemuda Thea Wonte, bersama teman-temannya beberapa waktu lalu sempat sangat viral hasil karyanya dalam pembuatan Tenda Perkemahan Pemuda GMIM se-Sinode, di mana mereka berhasil menuangkan ide kearifan lokal dalam pembuatan tenda, alhasil bukan hanya memikat hati para peserta dan pengunjung, tapi juga tim juri yang menilai.

"Jika kearifan lokal dan semangat mencintai budaya itu ada dalam diri kita, maka dengan sendirinya apapun yang kita kerjakan, kita pikirkan, akan selalu ada sentuhan yang menandakan kecintaan kita akan kearifan lokal. Jangan malu untuk mempelajari kearifan lokal kita sendiri, karena kekayaan ini hanya dapat kita pertahankan untuk generasi ke depan jika kita tidak meninggalkannya. Cintai kearifan lokal, permisif terhadap budaya luar, namun jadikan budaya kita sebagai karakter yang mengakar dalam diri kita sendiri," pesannya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....