Jingheping di Manado, Wujud Bakti bagi Arwah yang Terlupakan
- 07 Sep 2026 09:22 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Umat Khonghucu di Manado melaksanakan sembahyang Jingheping, Minggu, 6 September 2026. Ritual ini merupakan bagian dari penghayatan bulan ketujuh penanggalan Imlek yang sarat dengan nilai bakti.
Jingheping ditujukan untuk mendoakan arwah yang tidak lagi memiliki keluarga atau keturunan yang dapat melaksanakan sembahyang bagi mereka. Ritual ini dilaksanakan menjelang berakhirnya bulan ketujuh Imlek.
Sebelumnya, umat Khonghucu telah melaksanakan puncak bulan ketujuh atau Cap Go pada 27 Agustus 2026 serta sembahyang bakti kepada leluhur melalui ritual Zongyuan. Penyuluh Agama Khonghucu Kanwil Kemenag Sulawesi Utara, Theresia Agnes Lasut atau Js. Tessa, mengatakan Jingheping memiliki makna kemanusiaan yang kuat.
“Jingheping mengajarkan bahwa bakti tidak berhenti hanya kepada keluarga dan leluhur sendiri,” ujar Js. Tessa.
Menurutnya, umat juga mengenang dan mendoakan mereka yang telah mendahului, termasuk arwah yang tidak lagi memiliki keluarga atau keturunan.
“Melalui Jingheping, umat mendoakan agar mereka memperoleh ketenangan dan kedamaian,” katanya.
Doa tersebut, lanjut Js. Tessa, menjadi bentuk penghormatan terhadap kehidupan sekaligus wujud kasih kepada sesama manusia. Ia menambahkan, umat mendoakan agar mereka yang telah meninggal dapat memperoleh ketenangan dan kedamaian serta manunggal dengan Tian di alam Xian Tian.
Jingheping sekaligus menjadi pengingat bahwa nilai bakti dalam ajaran Khonghucu tidak hanya ditujukan kepada keluarga dan leluhur, tetapi juga kepada mereka yang telah meninggal dan terlupakan. Tradisi ini menegaskan nilai kasih, penghormatan dan kepedulian dalam kehidupan umat Khonghucu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....