Pendakian Tiga Gunung di Tomohon Ditutup Sementara
- 31 Agt 2026 22:59 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Tomohon – Pemerintah Kota Tomohon menutup sementara dan membatasi aktivitas pendakian di Gunung Lokon, Gunung Empung, dan Gunung Mahawu sebagai langkah antisipatif menghadapi potensi bencana serta risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau.
Kebijakan tersebut diambil berdasarkan rekomendasi teknis dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara dan Pos Pengamatan Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), serta menindaklanjuti arahan Menteri Dalam Negeri dan Gubernur Sulawesi Utara terkait pencegahan dan penanggulangan karhutla.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tomohon, Hengki Y. Supit, menjelaskan bahwa penutupan jalur pendakian bukan bertujuan menghentikan aktivitas para pendaki maupun komunitas pencinta alam, melainkan sebagai bentuk kehati-hatian demi keselamatan masyarakat dan perlindungan kawasan hutan.
“Langkah ini merupakan bentuk tanggung jawab bersama untuk mencegah terjadinya risiko yang dapat mengancam keselamatan jiwa sekaligus melindungi kawasan hutan dan ekosistem dari potensi kerusakan maupun kebakaran,” ujarnya.
Menurutnya, Gunung Lokon saat ini berstatus Level II (Waspada). Berdasarkan rekomendasi PVMBG, masyarakat diminta tidak beraktivitas dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Tompaluan.
Sementara itu, Gunung Empung, meskipun bukan gunung api aktif tersendiri, berada di kawasan Cagar Alam Lokon-Empung dan secara geografis terletak tepat di depan Kawah Tompaluan. Karena itu, aktivitas di kawasan tersebut harus tetap memperhatikan ketentuan konservasi dan batas-batas keselamatan yang berlaku.
Adapun Gunung Mahawu saat ini berstatus Level I (Normal). Namun kawasan tersebut merupakan bagian dari hutan lindung yang memerlukan perlindungan khusus, terutama saat musim kemarau ketika risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat.
BPBD Kota Tomohon mengajak seluruh masyarakat, khususnya para pendaki, komunitas pencinta alam, pemandu wisata, dan warga sekitar kawasan gunung untuk mendukung kebijakan tersebut dengan tidak melakukan aktivitas pendakian selama masa penutupan.
“Menutup jalur pendakian bukan berarti menghentikan kecintaan kita kepada alam. Justru dengan menahan diri, mematuhi ketentuan dan menjaga kawasan, kita sedang menunjukkan bahwa mencintai alam berarti juga menghormati keselamatan dan kelestariannya,” kata Hengki.
Sebagai bagian dari upaya sosialisasi, BPBD bersama pemerintah kecamatan dan kelurahan telah memasang sejumlah baliho peringatan di lokasi-lokasi strategis. Pemerintah juga berharap seluruh pihak turut membantu menyebarluaskan informasi terkait kebijakan tersebut kepada masyarakat.
Meski demikian, Hengki menegaskan bahwa penutupan jalur pendakian bersifat sementara dan akan dievaluasi sesuai perkembangan kondisi di lapangan.
“Kami meyakini penutupan ini tidak akan permanen. Ketika kondisi telah dinyatakan aman dan normal kembali, pemerintah akan segera mengumumkan pembukaan jalur pendakian,” ujarnya.
Pemerintah Kota Tomohon menegaskan bahwa keselamatan masyarakat merupakan prioritas utama, sementara kelestarian alam menjadi tanggung jawab bersama yang harus dijaga oleh seluruh elemen masyarakat. Dengan dukungan semua pihak, diharapkan upaya pencegahan karhutla dan perlindungan kawasan konservasi dapat berjalan optimal selama musim kemarau berlangsung.
(Anugrah Pandey)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....