Warga Tumaratas Raya Siapkan Aksi Cegah Bara Api Soputan Masuk Hutan Lindung
- 06 Agt 2026 20:07 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Minahasa – Pemerintah Desa Tumaratas Raya bersama masyarakat berencana melakukan aksi pemutusan jalur rambatan bara api di kawasan Gunung Soputan. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi sisa kebakaran di kaki Gunung Soputan, wilayah Silian, Kabupaten Minahasa Tenggara, agar tidak meluas ke kawasan hutan lindung di wilayah Tumaratas Raya, Kecamatan Langowan Barat, Kabupaten Minahasa.
Hukum Tua Desa Tumaratas Dua, Rocky Woran, mengatakan pemerintah desa bersama pemangku adat dan masyarakat akan segera bergerak menuju kawasan Gunung Soputan untuk membuat jalur pemisah sebagai upaya mencegah rambatan bara api.
"Dalam waktu dekat ini kami, pemerintah Desa Tumaratas Raya bersama pemangku adat dan masyarakat, akan melakukan aksi untuk memutus jalur rambatan bara api dari kaki Gunung Soputan wilayah Silian, Kabupaten Minahasa Tenggara," kata Rocky Woran kepada RRI Manado.
Selain menyiapkan langkah pencegahan, pemerintah desa juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan di tengah musim kemarau yang disertai cuaca panas berkepanjangan dan angin kencang. Warga diingatkan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, baik di kawasan hutan lindung maupun di sekitar permukiman.
"Kami berharap masyarakat dapat bersama-sama membantu pemerintah apabila terjadi kebakaran. Warga juga diminta tidak melakukan pembakaran di kebun, kawasan hutan lindung Gunung Soputan, maupun di sekitar permukiman karena kondisi cuaca saat ini sangat rawan memicu kebakaran," ujarnya.
Rocky Woran juga mengungkapkan bahwa musim kemarau yang berlangsung selama beberapa pekan terakhir telah memberikan dampak besar terhadap sektor pertanian di desanya. Menurutnya, sekitar 90 persen warga Desa Tumaratas Dua menggantungkan mata pencaharian pada sektor hortikultura di kawasan perkebunan Kelelondey.
Ia menjelaskan, cuaca panas berkepanjangan menyebabkan banyak tanaman mengalami kekeringan hingga gagal panen. Kondisi tersebut diperparah oleh karakteristik tanah di kawasan perkebunan yang didominasi pasir sehingga lebih cepat menyerap panas dan sulit mempertahankan kelembapan.
"Hampir 90 persen masyarakat kami merupakan petani hortikultura. Saat ini banyak tanaman mengering dan gagal panen karena panas berkepanjangan. Kontur tanah yang berpasir membuat panas cepat terserap sehingga tanaman sulit tumbuh dengan baik," pungkasnya.
(Jeff Assa)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....