Menyusuri Jejak Maleo di Batu Managis, Ketua PWI Sulut Kagumi Keindahan Bolsel
- 06 Agt 2026 22:38 WIB
- Manado
RRI.CO.ID: Bolsel – Di balik padatnya agenda menghadiri Konferensi Kabupaten (Konferkab) III Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Kamis (06/8/2026), Ketua PWI Sulawesi Utara, Sintya Bojoh, menyempatkan diri menikmati sisi lain Bumi Selatan yang menyimpan kekayaan hayati luar biasa.
Destinasi yang dikunjungi bukanlah objek wisata biasa, melainkan kawasan konservasi burung maleo di Batu Managis, Kecamatan Bolaang Uki. Di tempat inilah harapan bagi kelestarian salah satu satwa endemik paling langka di Sulawesi terus dijaga melalui semangat gotong royong masyarakat.
Didampingi Ketua PWI Bolsel Viko Karinda bersama jajaran pengurus, Sintya menelusuri kawasan penetasan semi-alami (hatchery) burung maleo (Macrocephalon maleo). Suasana yang teduh, rindangnya pepohonan, serta hamparan pasir tempat telur-telur maleo dirawat menghadirkan pengalaman yang berbeda dari kunjungan organisasi pada umumnya.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi wisata berbasis konservasi yang dimiliki Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan kepada para tamu dari luar daerah.
Bolsel sendiri dikenal sebagai salah satu habitat penting burung maleo di Sulawesi. Selain kawasan konservasi Batu Managis di Desa Molibagu, satwa berciri khas bertelur di pasir panas itu juga memiliki lokasi peneluran alami di kawasan Tanjung Binerean, Kecamatan Pinolosian.
Di Batu Managis, upaya pelestarian dilakukan secara swadaya oleh Kelompok Modaga no Suangge binaan dari Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, serta turut mendapay support dari PT JRBM dan Komunitas Persatuan Relawan Muda Molibagu (Peredam) Bolsel.
Di atas lahan konservasi seluas kurang lebih dua hektare, telur-telur maleo yang berhasil diselamatkan dari ancaman predator dipindahkan ke lokasi penetasan semi-alami. Setelah menetas, anak-anak maleo dipelihara sementara sebelum akhirnya dilepasliarkan kembali ke habitatnya.
Bagi Sintya Bojoh, melihat langsung proses pelestarian satwa endemik tersebut menjadi pengalaman yang berkesan.
Ia mengaku kagum atas dedikasi masyarakat yang tanpa lelah menjaga keberlangsungan populasi maleo melalui kolaborasi dengan pemerintah dan sektor swasta.
“Ini pengalaman yang sangat berharga. Burung maleo merupakan kebanggaan Sulawesi yang harus terus dijaga. Saya berharap semakin banyak masyarakat datang dan mengenal kawasan ini sehingga kesadaran untuk menjaga lingkungan juga semakin meningkat,” ujar Sintya.
Menurutnya, konsep wisata berbasis konservasi seperti yang dikembangkan di Batu Managis memiliki prospek besar karena mampu menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat tanpa mengabaikan aspek pelestarian lingkungan.
“Konservasi dan pariwisata bisa berjalan beriringan. Ketika masyarakat memperoleh manfaat dari sektor wisata, maka semangat menjaga alam juga akan semakin kuat,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua PWI Bolsel, Viko Karinda, menjelaskan bahwa kunjungan ke Batu Managis memang sengaja dimasukkan dalam rangkaian agenda Konferkab III PWI Bolsel. Tujuannya tidak sekadar memperkenalkan destinasi wisata, tetapi juga menunjukkan bahwa Bolsel memiliki kekayaan hayati yang layak dikenal lebih luas.
“Kami ingin setiap tamu yang datang ke Bolsel membawa cerita bahwa daerah ini bukan hanya dikenal karena keramahan masyarakat dan kekayaan budayanya, tetapi juga memiliki kawasan konservasi yang menjadi rumah bagi burung maleo, salah satu satwa endemik Sulawesi yang harus terus dilestarikan,” ungkap Viko.
Selama berada di kawasan konservasi, rombongan memperoleh penjelasan mengenai siklus hidup burung maleo, teknik penyelamatan telur dari ancaman predator, proses penetasan semi-alami, hingga tahapan pelepasliaran anakan maleo ke habitat alaminya.
Selain mengunjungi lokasi konsevasi burung maleo, Ketua PWI Provinsi Sulut bersama rombongan turut melihat proses pembuatan gula aren dan gula semut dari kelompom Modaga No Swangge, yang lokasinya tidak jauh dari area konservasi.
Bahkan, sempat mencicipi manisnya olahan air nira dari aren sebelum menjadi gula batu atau gula semut.
Tak sekadar menjadi kunjungan wisata, perjalanan singkat ke Batu Managis meninggalkan pesan kuat tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam. Di tengah tantangan pelestarian satwa liar, kawasan konservasi ini menjadi bukti bahwa kepedulian masyarakat mampu melahirkan harapan baru bagi keberlangsungan burung maleo.
Batu Managis pun perlahan menjelma bukan hanya sebagai pusat konservasi, tetapi juga sebagai destinasi wisata edukatif yang memperlihatkan bahwa alam yang dijaga dengan sepenuh hati akan selalu memiliki cerita untuk diwariskan kepada generasi mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....