Pariwisata Sulawesi Utara: Mengejar Angka, Ciptakan Nilai Tambah
- 02 Jul 2026 12:17 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara pada Mei 2026 menunjukkan tren positif sektor pariwisata daerah. Kunjungan wisatawan mancanegara tercatat mencapai 8.952 orang, perjalanan wisatawan nusantara menembus 1,23 juta perjalanan, sementara Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang naik menjadi 45,95 persen. Angka-angka tersebut menjadi sinyal kuat bahwa aktivitas pariwisata di Sulawesi Utara terus pulih dan bertumbuh.
Namun, keberhasilan pembangunan pariwisata tidak semestinya diukur semata dari banyaknya wisatawan yang datang. Pertanyaan yang lebih mendasar ialah sejauh mana pertumbuhan itu benar-benar menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat, memperkuat ekonomi lokal, menjaga kelestarian lingkungan, serta mempertahankan identitas budaya Sulawesi Utara.
Pandangan ini sejalan dengan disertasi Wakil Ketua ISEI Cabang Manado, Harley Mangindaan, yang berjudul “Kajian Pengembangan Pariwisata di Sulawesi Utara Ditinjau dari Perspektif Geotourism yang Holistik.” Dalam kajian tersebut, konsep geotourism menempatkan pariwisata bukan sekadar aktivitas kunjungan, melainkan instrumen pembangunan yang menjaga karakter geografis suatu wilayah, mencakup bentang alam, warisan budaya, sejarah, kehidupan masyarakat, hingga manfaat ekonomi yang berkelanjutan.
“Pariwisata Sulawesi Utara tidak boleh hanya berhenti pada angka kunjungan, tetapi harus diukur dari seberapa besar nilai tambah ekonomi yang dinikmati masyarakat lokal serta seberapa kuat sektor ini menjaga identitas dan keberlanjutan daerah,” ujar Harley Mangindaan.
Sulawesi Utara memiliki modal yang sangat kuat untuk mengembangkan pendekatan tersebut. Taman Nasional Bunaken, Gunung Lokon, Danau Tondano, Gunung Mahawu, Pulau Lembeh, Kepulauan Sangihe dan Talaud, hingga kawasan geopark merupakan aset geowisata yang memiliki daya tarik internasional. Kekayaan alam itu menjadi semakin bernilai ketika dipadukan dengan budaya Minahasa, Bolaang Mongondow, Nusa Utara, serta ragam kuliner khas yang menjadi identitas daerah.
Di sisi lain, data BPS menunjukkan hampir separuh wisatawan mancanegara yang datang ke Sulawesi Utara berasal dari Tiongkok. Kondisi ini membuka peluang besar, tetapi sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya diversifikasi pasar wisatawan. Promosi ke Korea Selatan, Jepang, Australia, negara-negara ASEAN, hingga Eropa perlu terus diperkuat agar industri pariwisata Sulut tidak bertumpu pada satu pasar utama.
Harley menilai, ketergantungan pada satu pasar wisatawan akan membuat sektor pariwisata rentan terhadap perubahan situasi global, baik faktor ekonomi, kebijakan perjalanan, maupun geopolitik.
“Diversifikasi pasar menjadi keharusan. Sulawesi Utara harus memperluas promosi ke negara-negara potensial agar pariwisata kita tidak rentan terhadap guncangan eksternal dan tetap memiliki daya tahan dalam jangka panjang,” kata Harley.
Dalam perspektif ekonomi regional, pariwisata memiliki efek berganda yang luas. Belanja wisatawan tidak hanya menghidupkan sektor perhotelan, tetapi juga mendorong pertumbuhan transportasi, restoran, UMKM, industri kreatif, pertanian, perikanan, hingga ekonomi digital. Karena itu, ukuran keberhasilan pembangunan pariwisata perlu bergeser dari sekadar peningkatan jumlah kunjungan menuju besarnya nilai tambah yang dinikmati masyarakat lokal.
Transformasi tersebut memerlukan langkah-langkah strategis. Pertama, memperkuat destinasi berbasis geowisata dan ekowisata agar keunggulan alam Sulawesi Utara tidak sekadar menjadi objek kunjungan, tetapi juga pusat edukasi, konservasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Kedua, meningkatkan kualitas sumber daya manusia pariwisata agar pelaku industri lokal mampu memberikan layanan yang kompetitif di tingkat nasional maupun internasional.
Ketiga, memperluas promosi digital ke pasar internasional yang lebih beragam, sekaligus memperkuat posisi UMKM dalam rantai nilai industri pariwisata. Keempat, memastikan pengelolaan destinasi dilakukan dengan prinsip keberlanjutan lingkungan, mengingat kerusakan ekosistem justru akan menggerus daya saing pariwisata itu sendiri.
Menurut Harley, pengembangan pariwisata Sulawesi Utara harus dibangun di atas fondasi konektivitas, kualitas SDM, dan pengelolaan lingkungan yang terintegrasi.
“Jika ingin menjadikan pariwisata sebagai motor pertumbuhan ekonomi daerah, maka pengembangannya harus dilakukan secara holistik: konektivitas antardestinasi diperkuat, SDM pariwisata ditingkatkan, UMKM dilibatkan dalam rantai nilai, dan kelestarian lingkungan dijaga sebagai modal utama,” ujarnya.
ISEI Cabang Manado memandang momentum pertumbuhan sektor pariwisata saat ini harus dimanfaatkan untuk melakukan transformasi kebijakan. Orientasi pembangunan perlu bergeser dari sekadar mengejar jumlah kunjungan menuju pengembangan pariwisata yang berkualitas, bernilai tambah tinggi, inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Dengan pendekatan itu, pariwisata diharapkan mampu menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat sekaligus memperkuat daya saing daerah di tingkat nasional maupun internasional.
Momentum yang tergambar dalam data BPS hendaknya tidak berhenti sebagai capaian statistik semata. Lebih dari itu, momentum ini harus menjadi titik awal transformasi menuju pariwisata Sulawesi Utara yang berkualitas, menyejahterakan masyarakat, menjaga kelestarian alam dan budaya, serta mengukuhkan daerah ini sebagai destinasi unggulan di tingkat nasional maupun global.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....