Pendeta Meivira Apresiasi Peran KCBD dalam Pendampingan Kesehatan Mental

  • 23 Mei 2026 18:06 WIB
  •  Manado
Poin Utama
  • Pendeta GMIM Sion Malalayang, Pdt. Meivira Tanor menilai isu kesehatan mental perlu mendapat perhatian serius karena fasilitas pendukung kesehatan mental di Sulawesi Utara masih terbatas.
  • Pendeta Meivira mengapresiasi kehadiran KCBD yang melibatkan tenaga profesional dan aktif memberikan pendampingan kesehatan mental, termasuk melalui pendekatan rohani dan pastoral konseling.
  • Penanganan kesehatan mental dinilai perlu dilakukan secara holistik mencakup aspek fisik, sosial, rohani dan jiwa, serta tetap melibatkan psikolog maupun psikiater jika diperlukan penanganan lanjutan.

RRI.CO.ID, Manado - Kehadiran Komunitas Cegah Bunuh Diri (KCBD) yang konsisten bergerak di bidang kesehatan mental mendapat perhatian dari Pendeta GMIM Sion Malalayang, Pdt. Meivira Tanor. Menurut Pdt. Meivira, isu kesehatan mental perlu mendapatkan perhatian serius, terutama di Sulawesi Utara yang dinilai masih memiliki keterbatasan fasilitas penunjang layanan kesehatan mental.

“Isu kesehatan mental perlu diperhatikan secara serius. Di Sulawesi Utara sendiri fasilitas yang menunjang kesehatan mental masih terbatas. Karena itu, kehadiran KCBD yang di dalamnya terdapat tenaga-tenaga profesional sangat membantu,” ujarnya.

Pendeta Meivira mengaku pernah terlibat dalam beberapa program KCBD, khususnya dalam pendampingan rohani. Melalui keterlibatan tersebut, ia melihat secara langsung manfaat dan dampak positif yang diberikan komunitas terhadap masyarakat.

“Saya sempat bergabung dalam beberapa program mereka untuk pendampingan secara rohani dengan kapasitas sebagai pendeta. Dari situ saya melihat langsung dan mendapatkan banyak ilmu. Sebagai pendeta, pendekatan pastoral secara langsung dalam komunitas ini dapat diterapkan juga di jemaat karena kesehatan mental bisa terjadi pada siapa saja,” katanya.

Ia juga menilai pendekatan kesehatan mental perlu dilakukan secara holistik, tidak hanya dari sisi psikologis tetapi juga fisik, sosial, rohani dan jiwa.

“Bicara kesehatan mental harus dilihat secara holistik, mulai dari jasmani, fisik, rohani, sosial hingga jiwa. Saat seseorang terlihat sehat belum tentu mentalnya sehat,” jelasnya.

Menurutnya, kesehatan mental dan kerohanian memiliki keterkaitan meskipun ilmu psikologi dan teologi merupakan dua bidang yang berbeda. Namun pendekatan spiritual dinilai dapat membantu proses pemulihan seseorang melalui pastoral konseling secara alkitabiah.

Pendeta Meivira menambahkan, apabila seseorang membutuhkan penanganan lebih lanjut setelah pastoral konseling dilakukan, maka akan disarankan untuk mendapatkan pendampingan profesional dari psikolog maupun psikiater.

“Kami tentu melihat batasan dalam pelayanan pastoral. Jika memang membutuhkan penanganan lebih lanjut, maka akan diarahkan kepada psikolog ataupun psikiater,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....