KAI Siapkan Reaktivasi Jalur Kedungjati–Tuntang, Dorong Ekonomi dan Pariwisata

  • 30 Apr 2026 17:14 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - PT Kereta Api Indonesia (KAI) tengah menyiapkan langkah strategis untuk mereaktivasi jalur kereta api Kedungjati–Tuntang sepanjang 30 kilometer. Upaya ini diyakini akan membuka peluang ekonomi baru sekaligus memperkuat konektivitas wilayah di Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga.

Jalur Kedungjati–Tuntang bukan sekadar lintasan transportasi, melainkan bagian penting dari sejarah perkeretaapian di Indonesia. Rute ini dahulu menjadi penghubung utama Semarang menuju Ambarawa, yang kini masih menyisakan jejaknya melalui layanan kereta wisata Tuntang–Bedono.

Secara historis, jalur ini merupakan percabangan dari lintas utama Semarang menuju wilayah Vorstenlanden, yakni Surakarta dan Yogyakarta, dengan titik percabangan di Stasiun Kedungjati setelah Stasiun Tanggung, Grobogan. Jalur ini dibangun oleh perusahaan swasta Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), dan mulai beroperasi pada 21 Mei 1873.

Pada masa Hindia Belanda, jalur ini memiliki peran strategis, terutama untuk mendukung mobilitas militer menuju Benteng Willem I di Ambarawa serta distribusi komoditas perkebunan seperti kayu jati, kopi, dan gula dari pedalaman Jawa Tengah ke pelabuhan Semarang.

Stasiun Ambarawa sendiri kemudian ditetapkan sebagai Museum Kereta Api Ambarawa pada 6 Oktober 1976. Namun, layanan reguler di jalur Kedungjati–Tuntang resmi dihentikan pada tahun yang sama akibat menurunnya jumlah penumpang, meningkatnya persaingan dengan transportasi darat, serta tingginya biaya perawatan infrastruktur.

Upaya reaktivasi sempat dilakukan pada 2013–2015 oleh Kementerian Perhubungan. Namun, proyek tersebut terhenti setelah progres pembangunan baru mencapai sekitar 1,2 kilometer rel dari Stasiun Kedungjati akibat kendala pendanaan dan teknis. Hingga kini, sebagian infrastruktur yang sempat dibangun kembali terbengkalai dan tertutup semak belukar.

Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai reaktivasi jalur ini sangat penting untuk mendukung sistem transportasi berkelanjutan.

“Reaktivasi jalur Kedungjati–Tuntang akan memperkuat konektivitas wilayah dan mengurangi ketergantungan pada transportasi jalan yang saat ini sudah sangat padat,” ujar Djoko.

Ia juga menambahkan bahwa keberadaan jalur ini dapat menjadi solusi untuk menekan angka kecelakaan di jalur darat, khususnya di kawasan Bawen yang dikenal rawan.

“Kereta api bisa menjadi alternatif transportasi yang lebih aman dan efisien, terutama untuk mengurangi beban lalu lintas di jalur ‘tengkorak’ Bawen,” katanya.

Selain itu, Djoko menekankan potensi besar sektor pariwisata yang dapat terdongkrak melalui reaktivasi jalur tersebut.

“Jika terintegrasi dengan destinasi wisata seperti Rawa Pening dan Museum Ambarawa, jalur ini akan menjadi daya tarik wisata berbasis transportasi yang unik dan bernilai sejarah tinggi,” ungkapnya.

Secara geografis, jalur Kedungjati–Tuntang memiliki karakteristik unik karena melintasi perbukitan, hutan jati, serta jembatan-jembatan tinggi di atas sungai dan lembah. Keindahan lanskap ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri yang berpotensi dikembangkan sebagai wisata kereta api.

Jika kembali aktif, jalur ini tidak hanya menghidupkan kembali stasiun-stasiun lama seperti Bringin dan Gogodalem, tetapi juga membuka peluang tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru di sekitarnya, mulai dari sektor UMKM hingga jasa transportasi dan penginapan.

Lebih jauh, reaktivasi jalur ini juga akan melengkapi jaringan jalur melingkar (loop line) di Jawa Tengah yang menghubungkan Semarang, Yogyakarta, dan Solo. Hal ini akan mempermudah mobilitas masyarakat sekaligus memperlancar distribusi logistik dari wilayah pedalaman.

Selain sebagai upaya pengembangan transportasi, reaktivasi ini juga dinilai penting untuk menjaga aset negara dari kerusakan maupun penyerobotan lahan. Dengan diaktifkannya kembali jalur ini, bangunan stasiun dan infrastruktur bersejarah dapat terawat dan tetap berfungsi.

Dengan berbagai potensi yang dimiliki, reaktivasi jalur Kedungjati–Tuntang diharapkan tidak hanya menghidupkan kembali rel yang telah lama mati, tetapi juga menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi dan pelestarian sejarah perkeretaapian Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....