Pendeta Audry: Jumat Agung Saat Umat Mengingat Kasih dan Pengorbanan Yesus
- 03 Apr 2026 13:06 WIB
- Manado
Poin Utama
- Jumat Agung dimaknai sebagai peristiwa agung penebusan dosa manusia melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib.
- Perjamuan Kudus menjadi momentum jemaat mengingat tubuh dan darah Kristus sebagai simbol kasih dan keselamatan.
- Pendeta Audry Sumege mengajak umat menghidupi makna pengorbanan Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
RRI.CO.ID, Manado - Perjamuan Kudus dalam rangkaian Ibadah Jumat Agung bukan sekadar tradisi gerejawi, tetapi menjadi momentum sakral untuk menghayati pengorbanan Yesus Kristus bagi keselamatan umat manusia. Hal tersebut disampaikan Pendeta Jemaat GMIM Elim Malalayang Satu Barat, Pdt. Audry Alfred Sumege, usai memimpin Ibadah Jumat Agung di GMIM Elim Malalayang Satu Barat pada Jumat, 3 April 2026.
Menurut Pdt. Audry, makna “keagungan” dalam Jumat Agung bukan terletak pada nama harinya, melainkan pada peristiwa besar dan mulia yang terjadi ribuan tahun silam.
“Keagungan itu bukan pada harinya, tetapi pada peristiwa agung yang terjadi pada hari Jumat, ketika Yesus Kristus, Anak Manusia yang benar, tanpa noda dan bercela, disalibkan untuk menebus dosa manusia,” ujarnya.
Ia menjelaskan, peristiwa penyaliban Kristus menjadi dasar seluruh gereja merayakan Jumat Agung sebagai hari besar umat Kristiani, karena di dalamnya terkandung kasih, pengorbanan, dan karya keselamatan Allah bagi manusia.
Lebih lanjut, Pdt. Audry menegaskan bahwa umat percaya dipanggil untuk memberi penghayatan yang mendalam terhadap pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib, sekaligus menjalankan amanat-Nya dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, melalui Perjamuan Kudus, jemaat diajak untuk mengingat kembali tubuh dan darah Kristus yang dikorbankan demi penebusan dosa manusia.
“Ketika kita mengikuti Perjamuan Kudus, kita sementara menikmati tubuh dan darah-Nya sambil mengingat Dia yang telah berkorban untuk menebus dosa manusia,” katanya.
Ia menambahkan, pemaknaan Perjamuan Kudus tidak berhenti pada ibadah seremonial, melainkan harus tercermin dalam sikap hidup umat setiap hari melalui kasih, pengampunan, dan ketaatan kepada firman Tuhan.
Dengan demikian, Jumat Agung dan Perjamuan Kudus menjadi panggilan iman bagi setiap orang percaya untuk terus hidup dalam nilai-nilai pengorbanan Kristus di tengah keluarga, gereja, dan masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....