Napak Tilas Jejak Pangeran Diponegoro, Bara Dorong Generasi Muda Cintai Sejarah
- 14 Mar 2026 22:55 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado: Putra Putri Literasi Sulawesi Utara (PPLSU) terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan budaya literasi di kalangan generasi muda di Kota Manado. Di bawah kepemimpinan Ketua Umum Standius Bara Prima, organisasi ini kembali menginisiasi kegiatan Tour Literasi bertajuk “Napak Tilas Sejarah Melalui Buku Manado 1830”, yang terinspirasi dari novel karya fiksiwan dan budayawan Reiner Emyot Ointoe pada Jumat, 15 Maret 2026.
Kegiatan ini mengajak generasi muda menelusuri jejak sejarah pengasingan Pangeran Diponegoro di Manado, yang menjadi bagian penting dari perjalanan tokoh besar dalam sejarah Indonesia tersebut.
Dalam tur literasi ini, para peserta mengunjungi sejumlah titik bersejarah yang berkaitan dengan kisah pengasingan Diponegoro, di antaranya Pelabuhan Manado, Fort Nieuw Amsterdam, Kampung Cina Manado, Kampung Islam Manado, Wale Tasikela, serta Kampung Borgo Manado. Lokasi-lokasi tersebut menjadi tujuan wisata literasi sejarah yang mempertemukan generasi muda dengan jejak masa lalu melalui pendekatan literatur.

Ketua Umum PPLSU, Standius Bara Prima, mengatakan bahwa kegiatan ini tidak hanya sekadar mengenang sejarah, tetapi juga menjadi upaya merawat memori kolektif masyarakat melalui literasi.
“Legasi literasi Diponegoro di Manado ini bukan hanya soal sejarah pengasingan, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat hari ini merawat ingatan melalui novel, toponim, dan napak tilas,” ujar Bara—sapaan akrabnya—di sela kegiatan buka puasa bersama setelah Tour Literasi berlangsung.
Ia menambahkan, kegiatan literasi sejarah seperti ini merupakan salah satu instrumen edukasi yang efektif bagi generasi muda untuk memahami jati diri bangsa sekaligus mengambil pelajaran dari masa lalu.
Menurutnya, pemahaman sejarah sangat penting untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air, terutama di tengah arus modernisasi dan globalisasi yang berkembang begitu cepat.
“Kami ingin generasi muda memahami bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi juga sumber nilai dan inspirasi untuk masa depan,” ujarnya.
Kegiatan ini juga mendapat sambutan antusias dari masyarakat Manado. Turut hadir dalam kegiatan tersebut penulis novel sekaligus budayawan Reiner Emyot Ointoe, Staf Khusus Gubernur Sulawesi Utara Bidang Kepemudaan Fariest Soeharyo, Sekretaris Umum Putra Putri Literasi Sulut Faradila Bachmid, serta jajaran pengurus PPLSU.
Novel Tiga Tahun Pangeran Diponegoro: Manado 1830 karya Reiner Ointoe, yang pertama kali terbit pada tahun 2017, menjadi salah satu referensi penting dalam literasi sejarah di Sulawesi Utara. Karya fiksi sejarah ini mengangkat kisah tiga tahun awal masa pengasingan Pangeran Diponegoro di Manado bersama sembilan pengikutnya setelah ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda.
Dalam novel tersebut, lebih dari sepuluh lokasi di Manado digambarkan sebagai tempat persinggahan sang pangeran sejak kedatangannya di Pelabuhan Manado pada 23 Juli 1830. Narasi yang disajikan tidak hanya menghadirkan unsur fiksi, tetapi juga berfungsi sebagai panduan literasi sejarah untuk mengenali kembali tokoh utama dalam Perang Jawa (Java Oorlog) 1825–1830.
Melalui kegiatan Tour Literasi ini, PPLSU berharap minat membaca dan pemahaman sejarah di kalangan generasi muda semakin meningkat, sekaligus memperkuat identitas kebangsaan melalui pendekatan literasi dan wisata sejarah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....