Cap Go Meh 2026 di Manado berlangsung Meriah, Angkat Harmoni Nusantara
- 04 Mar 2026 14:00 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Perayaan Cap Go Meh atau Goan Siau 2577 Kongzili di Manado berlangsung meriah, Selasa, 3 Maret 2026. Ribuan warga memadati Kawasan Pertokoan 45 atau Pecinan Manado untuk menyaksikan puncak perayaan yang memadukan ritual keagamaan dan atraksi budaya tersebut.
Sejak siang hingga malam hari, ruas Jalan DI Panjaitan, Jalan Soetomo, dan Jalan Walanda Maramis yang menjadi jalur arak-arakan dipenuhi masyarakat. Warga dari berbagai usia tampak antusias menyaksikan iring-iringan kereta hias, barongsai, serta rombongan ritual yang melintas.
Sebanyak sembilan kelenteng ambil bagian dalam perayaan tahun ini. Dalam barisan ritual, sebelas tangsin diarak menggunakan kio atau tandu yang dipikul umat berpakaian putih. Tabuhan tambur dan alunan musik khas mengiringi prosesi yang menjadi daya tarik utama setiap perayaan Cap Go Meh.

Tak hanya menampilkan tradisi Tionghoa, perayaan kali ini juga memperlihatkan akulturasi budaya yang kental. Penari Kabasaran tampil membuka barisan nonritual, disusul pertunjukan musik bambu klarinet yang menjadi ciri khas Sulawesi Utara. Barisan Paskibraka Kota Manado, drumband pelajar, perwakilan BKSAUA, siswa SMP Sekolah Rakyat Manado, hingga atlet dansa IODI dan atlet wushu turut meramaikan suasana. Kolaborasi barongsai dan tarian naga semakin menyemarakkan jalannya arak-arakan.
Sejumlah pejabat daerah hadir menyaksikan langsung kegiatan tersebut, di antaranya Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, dan Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Victor Mailangkay serta Wali Kota Manado, Andrei Angouw dan Wakil Wali Kota Manado, Richard Sualang. Pengamanan dari aparat gabungan turut memastikan rangkaian kegiatan berjalan tertib dan lancar.
Wali Kota Manado, Andrei Angouw, mengatakan Cap Go Meh telah menjadi bagian dari wajah budaya kota.
“Perayaan ini merupakan bagian dari budaya Kota Manado dan sudah menyatu secara historis. Pemerintah kota mendukung penuh karena ini juga menjadi agenda tahunan dan atraksi wisata yang diharapkan mampu menarik kunjungan wisatawan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua TITD Kelenteng Ban Hing Kiong, Jemmy Budijaya Binsar, menjelaskan bahwa Cap Go Meh yang jatuh pada hari kelima belas setelah Imlek memiliki makna spiritual mendalam bagi umat Tri Dharma.
“Ini adalah momen syukur dan doa memohon kesejahteraan serta penyelarasan. Keterlibatan budaya lokal dalam perayaan ini menunjukkan bahwa toleransi di Sulawesi Utara terjaga dengan baik,” katanya.
Perayaan yang mengusung tema Harmoni Nusantara tersebut ditutup dengan pesta kembang api yang menerangi langit Pecinan Manado. Ribuan warga tetap bertahan hingga akhir acara, merayakan kebersamaan dalam suasana penuh sukacita.
Cap Go Meh 2026 kembali menegaskan bahwa keberagaman budaya di Manado tidak hanya hidup dalam sejarah, tetapi juga terus dirayakan dalam harmoni.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....