Stok Pangan SulutGo Aman hingga Juni 2026, Bulog Siap Intervensi Pasar

  • 26 Feb 2026 19:32 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Perum Bulog Kantor Wilayah Sulawesi Utara dan Gorontalo memastikan ketersediaan pangan selama Ramadan dan menjelang Idul Fitri 2026 dalam kondisi aman. Cadangan beras yang tersedia saat ini mencapai sekitar 15 ribu ton dan diproyeksikan mencukupi hingga Mei - Juni 2026.

Kepala Kanwil Perum Bulog Sulutgo, Ermin Tora, mengatakan stok tersebut dinilai cukup untuk mengantisipasi lonjakan permintaan yang biasanya terjadi selama bulan puasa. Selain beras, Bulog juga memiliki cadangan minyak goreng sekitar 200 ribu liter dan gula pasir 145 ribu kilogram. “Dengan stok yang ada itu kita perkirakan sangat cukup, termasuk saat terjadi peningkatan permintaan di bulan Ramadan,” ujarnya kepada RRI, Kamis, 26 Februari 2026.

Kepala Kanwil Perum Bulog Sulutgo, Ermin Tora dalam Dialog Sulut Bicara bersama RRI Manado, Kamis, 26 Februari 2026. (Foto: Youtube RRI Manado).

Distribusi komoditas dilakukan ke 23 pasar rakyat melalui sekitar 185 pengecer, serta disalurkan ke ritel modern dan outlet binaan. Beras SPAP dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp12.500 per kilogram atau Rp62.500 per 5 kilogram. “Tidak boleh dijual di atas HET, tetapi boleh di bawah,” kata Ermin.

Namun, kecukupan stok tidak serta-merta meniadakan potensi gejolak harga di pasar selama Ramadan. Kenaikan harga bahan pokok pada momen hari besar keagamaan kerap menjadi fenomena berulang, sehingga efektivitas intervensi pemerintah tetap menjadi perhatian.

Ermin menyebut hanya menguasai sekitar 10 persen dari total kebutuhan pasar, sementara sisanya berada pada mekanisme distribusi umum. “Tugas kami melakukan intervensi ketika harga naik agar bisa menekan harga di pasar,” ujarnya. Intervensi dilakukan melalui gerakan pangan murah, operasi pasar, serta pengawasan bersama pemerintah daerah dan Satgas Pangan.

Selain menjaga distribusi, Bulog juga menyerap gabah petani Rp6.500 per kilogram dan jagung Rp5.500 per kilogram sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan hulu dan hilir. Menurut Ermin, pola tersebut merupakan mandat pemerintah untuk menjaga stabilitas. “Saat harga jatuh kami beli, saat harga naik kami jual lebih murah. Itu bentuk intervensi pemerintah,” katanya.

Bulog berharap kolaborasi lintas sektor dapat menjaga inflasi daerah tetap terkendali selama Ramadan hingga Idul Fitri. Meski stok dinyatakan aman, konsistensi pengawasan dan transparansi distribusi akan menjadi faktor penentu agar stabilitas harga benar-benar dirasakan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....