Masa Prapaskah Dimulai, Umat Katolik Didorong Bertobat dan Perkuat Solidaritas
- 20 Feb 2026 14:43 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Umat Katolik di seluruh dunia, termasuk di Sulawesi Utara, memasuki masa Prapaskah yang dimulai pada perayaan Rabu Abu dan berlangsung selama 40 hari hingga Sabtu Suci. Masa ini menjadi periode refleksi spiritual menjelang perayaan Paskah, yang dipusatkan pada pertobatan, puasa, doa, dan aksi solidaritas sosial.
Prapaskah diawali dengan penerimaan abu di dahi umat sebagai simbol kerendahan hati dan kesadaran akan kerapuhan manusia. Abu tersebut berasal dari pembakaran daun palma yang digunakan pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya dan diberkati dalam perayaan liturgi Rabu Abu.
Pastor Paroki Santo Joseph Sarongsong, menjelaskan bahwa masa Prapaskah mengajak umat untuk memperbaharui hidup melalui pertobatan pribadi maupun komunitas. “Umat Katolik diminta sungguh-sungguh menyadari kerapuhan dirinya dan kembali ke jalan kehidupan dengan pembaharuan diri, keluarga, dan masyarakat,” ujarnya.
Selain pertobatan, Gereja juga mendorong umat melakukan aksi solidaritas melalui Aksi Puasa Pembangunan (APP). Dana yang dikumpulkan dari puasa dan penghematan selama Prapaskah digunakan untuk membantu kelompok miskin, anak terlantar, serta kegiatan pemberdayaan umat. “Dari tindakan pertobatan itu, kita wujudkan lewat puasa, mati raga, dan derma sebagai bentuk solidaritas sosial,” katanya.
Gereja Katolik juga menetapkan kewajiban puasa dan pantang bagi umat tertentu selama masa Prapaskah. Puasa wajib dilakukan pada Rabu Abu dan Jumat Agung oleh umat berusia 18 hingga 60 tahun, sedangkan pantang dianjurkan bagi umat berusia 14 tahun ke atas. Selain makanan, umat juga diajak mengurangi konsumsi media sosial dan kebiasaan yang bersifat konsumtif.
“Pantang bukan hanya soal makanan, tetapi juga mengurangi hal-hal yang membuat kita terlalu melekat pada kenikmatan duniawi, termasuk penggunaan media sosial yang berlebihan,” ujarnya.
Selama Prapaskah, suasana liturgi gereja juga berubah dengan penggunaan warna ungu, pengurangan dekorasi altar, serta lagu-lagu bernuansa tobat. Gereja bahkan menganjurkan penundaan perayaan pesta, termasuk pemberkatan pernikahan, selama masa Prapaskah, kecuali dalam keadaan darurat.
Masa Prapaskah akan diakhiri dengan perayaan Pekan Suci yang diawali Minggu Palma, dilanjutkan Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci, sebelum umat Katolik merayakan Paskah sebagai puncak iman Kristiani.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....