Dibalik Abu Prapaskah, Ini Makna dan Asalnya

  • 19 Feb 2026 09:19 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Pastor Paroki St. Joseph Sarongsong, Rheinner Saneba, menjelaskan makna abu pada perayaan Rabu Abu dalam rangkaian Prapaskah umat Katolik. Ia menyampaikan penjelasan itu saat berdialog di RRI pada Kamis, 19 Februari 2026.

Dijelaskannya, abu yang ditandakan pada masing-masing umat yang masuk misa pada hari Rabu Abu itu dibuat dari pembakaran daun-daun palma. Ia menuturkan, sisa daun palma yang sudah kering yang dibagikan dikumpulkan dari rumah-rumah umat.

Daun-daun tersebut kemudian dibawa ke gereja dan dibakar dalam suatu upacara sederhana. Dalam prosesnya, daun-daun palma yang dibakar itu, abunya itu yang kemudian dibawa untuk diberkati lalu dioleskan pada dahi masing-masing umat.

Ia menjelaskan makna simbolik abu dalam kehidupan iman umat Katolik. Penjelasan tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian ibadah Prapaskah.

“Abu adalah partikel paling kecil dari kekuatan dunia, partikel paling kecil yang terlihat, tapi ketika dia digabung-gabungkan akan terasa. Abu adalah pertanda bahwa kita ini manusia sangat rapuh dan tidak berdaya,” katanya menjelaskan.

Lebih lanjut, ia menegaskan dimensi pertobatan dalam penandaan abu pada dahi umat. Ia mengaitkan simbol tersebut dengan rahmat dan belas kasihan Tuhan.

“Jadi abu yang ditandakan pada dahi kita merupakan sebuah komitmen pertobatan sungguh-sungguh untuk kembali kepada kerahmatan belas kasihan Allah yang kita yakini akan mengampuni kita dan akan memberikan kesempatan baru untuk hidup baik dan benar di matanya,” katanya lagi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....