Keunikan tradisi Perayaan Nyepi Umat Hindu di Indonesia

  • 11 Mar 2024 12:49 WIB
  •  Manado

KBRN, Manado: Hari Raya Nyepi, perayaan sakral bagi umat Hindu di Indonesia. Tahun ini, perayaan Nyepi jatuh pada tanggal 11 Maret 2024,yaitu Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1946, mengikuti kalender Saka yang menjadi penunjuk waktu bagi umat Hindu dalam merayakan pergantian tahun.

Perayaan Nyepi, sudah menjadi tradisi sejak tahun 78 M, memiliki akar kuat dalam ritual dan makna agama Hindu dari India. Nyepi, yang berasal dari kata "sepi" yang berarti sunyi atau senyap, memberikan pengalaman yang berbeda dengan perayaan tahun baru pada umumnya. Alih-alih gemerlap, Nyepi dirayakan dalam keheningan.

Ilustrasi Umat Hindu Sedang beribadah menjelang Hari Raya Nyepi (Foto: forevervaction.com)

Peringatan Hari Raya Nyepi tidak hanya merupakan momen keagamaan tetapi juga menandai keyakinan akan hari di mana para dewa melakukan penyucian diri di tengah samudra. Di Bali khususnya, daerah mayoritas umat Hindu, Nyepi menciptakan suasana hening yang luar biasa dan menghentikan segenap aktivitas. Listrik dimatikan, dan masyarakat membatasi diri di rumah masing-masing.

Perayaan Nyepi berlangsung selama 24 jam, dimulai dari matahari terbit pukul 06.00 hingga esok paginya pada pukul 06.00. Selama periode ini, umat Hindu terlibat dalam berbagai upacara keagamaan dan menyusul dengan festival seperti Tawur Kesanga dan terkenal dengan parade ogoh-ogoh.

Mengutip hasil penelitian Abdul Jalil dalam Jurnal "Upacara Hari Raya Nyepi Sebagai Upaya Perekat Keberagaman; Studi Pada Pura Penataran Agung Jagadhita Kendari, Sulawesi Tenggara" (2018:491), Nyepi bukan hanya sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga upaya memenuhi kebutuhan manusia, mulai dari kebutuhan rohani, spiritual, hingga jasmani.

Suasana Nyepi tidak hanya identik dengan keheningan tetapi juga dengan pemadaman listrik. Karimatus Saidah dalam bukunya "Nilai-nilai Kearifan Lokal Masyarakat Indonesia dan Implementasinya dalam Pendidikan Sekolah Dasar" (2020:32) mengungkapkan bahwa Nyepi adalah hari raya umat Hindu di Bali yang ditandai dengan tidak menyalakan api, tidak bepergian ke luar rumah, dan tidak melakukan aktivitas fisik. Selama Hari Raya Nyepi, umat Hindu diharapkan melakukan introspeksi diri, meditasi, atau ber-japam.

Lebih lanjut, buku "Widya Dharma Agama Hindu" (2007:57) menjelaskan rangkaian acara Nyepi:

1. Panglong 13 Sasih Kasanga: Melasti atau Mekiis Sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Melasti atau Mekiis, prosesi pembersihan diri di sumber air atau laut untuk menghanyutkan kotoran buana agung dan buana alit.

2. Tilem Sasih Kasanga: Bhuta Yadnya dan Ogoh-ogoh Dilanjutkan dengan upacara Bhuta Yadnya, diikuti oleh perayaan ngerupuk dan mengarak ogoh-ogoh sebagai simbol bhuta kala.

3. Tanggal Pisan, Sasih Kedasa: Catur Brata Penyepian Pada tanggal 1, bulan ke-10, umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian, yaitu Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak mengumbar nafsu).

4. Ngembak Geni: Pertemuan dan Bersilaturahmi Sehari setelah Nyepi, umat Hindu bersilaturahmi dan mengunjungi keluarga.

5. Dharma Santi: Ucapan Syukur dan Pemaafan Usai Ngembak Geni, umat Hindu melaksanakan Dharma Santi, mengucap syukur dan bermaaf-maafan.

Hari Raya Nyepi ditetapkan sebagai Hari libur nasional, berdasarkan Keputusan Presiden Indonesia Nomor 3 tahun 1983. Sebagai bentuk toleransi dan menghormati keberagaman tradisi peribadatan antar umat beragama di indonesia

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....