Wamen Nezar Sebut Algoritma Jadi Tantangan Baru Generasi Muda Indonesia

  • 25 Mei 2026 15:14 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengingatkan generasi muda Indonesia untuk mewaspadai bentuk baru penjajahan di era digital berupa dominasi algoritma yang dinilai perlahan membentuk pola pikir, perilaku, hingga persepsi publik. Hal itu disampaikan Nezar saat menghadiri peringatan Hari Bangkit Pelajar Islam Indonesia (PII) ke-79 di Pusat Pengembangan Aparatur Komunikasi dan Digital (Puspa Komdigi), Jakarta Barat pada Sabtu, 24 Mei 2026.

Menurut Nezar, masyarakat saat ini hidup di ruang digital yang sebagian besar dikendalikan platform dan algoritma media sosial. Situasi tersebut, kata dia, membuat masyarakat semakin sulit membedakan fakta, opini, hingga manipulasi informasi.

“Hari ini hidup kita dimediasi platform digital. Bahkan isi kepala kita perlahan dibentuk algoritma. Apa yang kita suka terus diperlihatkan, sementara pandangan lain disingkirkan. Kita hidup dalam filter bubble dan echo chamber,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut menjadi ancaman serius karena dapat memicu polarisasi sosial, memperkuat misinformasi, serta melemahkan kemampuan berpikir kritis masyarakat, khususnya generasi muda. Nezar mengutip laporan dari World Economic Forum yang menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai salah satu risiko global terbesar pada 2026, bahkan melampaui sejumlah ancaman geopolitik dunia.

“Sekarang orang lebih dulu percaya sentimen dibanding fakta. Kalau suka langsung dipercaya, kalau tidak suka langsung ditolak. Ini yang berbahaya,” tegasnya.

Selain membahas tantangan informasi digital, Nezar juga menyoroti percepatan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), mulai dari generative AI, agentic AI, hingga physical AI berbasis robotika yang disebut tengah mengubah peta persaingan global. Menurutnya, dunia saat ini memasuki fase kompetisi baru yang tidak lagi hanya berfokus pada perebutan sumber daya alam, tetapi juga penguasaan data, komputasi, semikonduktor, dan talenta digital.

“Hari ini perang yang paling penting adalah perang chip AI dan penguasaan teknologi. Kalau Indonesia hanya jadi pengguna teknologi, bonus demografi kita akan hilang tanpa dampak besar,” katanya.

Nezar menilai Indonesia memiliki modal strategis berupa bonus demografi dan kekayaan mineral penting yang dibutuhkan industri teknologi global. Namun, potensi tersebut dinilai tidak akan optimal tanpa peningkatan kualitas sumber daya manusia yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, ia mendorong generasi muda memperkuat kemampuan science, technology, engineering, and mathematics (STEM) serta meningkatkan literasi digital agar tidak mudah terjebak dalam manipulasi algoritma.

“Kita harus masuk menjadi pemain dalam industri digital global. Jangan hanya jadi pasar dan konsumen teknologi,” tandasnya.

Di akhir paparannya, Nezar mengajak organisasi kepemudaan dan pelajar mengambil peran aktif dalam membangun kemandirian teknologi nasional serta menjaga ruang digital Indonesia tetap sehat, kritis, dan produktif bagi masa depan bangsa.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....