Whoosh: Cepat, Modern, Tapi Masih Jauh dari Publik

  • 21 Okt 2025 08:11 WIB
  •  Manado

KBRN, Manado: Kehadiran Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) menjadi tonggak baru dalam sejarah transportasi Indonesia. Lintasan sepanjang 142 kilometer itu mampu memangkas waktu tempuh menjadi hanya 45 menit, dengan kecepatan mencapai 350 kilometer per jam. Sebuah lompatan teknologi yang patut dibanggakan.

Namun, di balik gemerlap prestise nasional itu, muncul pertanyaan penting: secepat apa Whoosh mampu menjangkau kebutuhan masyarakatnya? Sebab, infrastruktur modern hanya bermakna jika benar-benar terkoneksi dengan kehidupan nyata warga—bukan sekadar menjadi simbol kemajuan.

Sejak awal, proyek Whoosh dinilai lebih merepresentasikan ambisi simbolik ketimbang kebutuhan transportasi mendesak. Jalur Jakarta–Bandung sejatinya tidak mengalami krisis mobilitas ekstrem. Kehadirannya lebih sebagai upaya menunjukkan bahwa Indonesia sejajar dengan negara maju pemilik kereta cepat.

Secara teknologi, Whoosh memang melesat. Namun tanpa pemahaman mendalam terhadap pola bepergian masyarakat, kecepatan 350 km/jam itu berisiko kehilangan makna. Data menunjukkan pertumbuhan penumpang masih lambat—sebuah ironi di tengah semangat akselerasi yang digembar-gemborkan.

Fakta di lapangan memperlihatkan bahwa Whoosh belum sepenuhnya menjadi moda untuk semua kalangan. Tarif yang relatif tinggi, lokasi stasiun yang jauh dari pusat kota, serta integrasi antarmoda yang belum optimal, membuatnya lebih cocok untuk segmen menengah ke atas.

Banyak pelaju harian masih memilih travel, bus, atau kendaraan pribadi. Alasannya sederhana: harga lebih terjangkau dan layanan door-to-door yang lebih praktis. Bahkan bagi pengguna mobil, tawaran waktu tempuh 45 menit terasa kurang menarik jika akses menuju stasiun memakan waktu lama.

Dengan demikian, total waktu perjalanan dari rumah ke tujuan akhir sering kali tak jauh berbeda dengan berkendara sendiri—membuat kecepatan tinggi Whoosh kehilangan relevansi praktisnya.

Meski pemerintah menegaskan proyek ini tidak menggunakan dana APBN, Whoosh tetap melibatkan konsorsium BUMN. Artinya, risiko kerugian operasional berpotensi berdampak tidak langsung pada keuangan negara.

Kerugian yang berlarut-larut dapat memicu penundaan proyek strategis lain atau bahkan memunculkan kebutuhan akan Penyertaan Modal Negara (PMN) baru. Dalam jangka panjang, masyarakat tetap menjadi pihak yang ikut menanggung dampak finansial tersebut—meski tidak secara eksplisit.

Di tengah berbagai sorotan, sisi positif Whoosh patut diapresiasi. Kenyamanan kabin, ketepatan jadwal, dan pelayanan awak kereta menunjukkan standar baru dalam layanan transportasi publik Indonesia.

Dalam persepsi publik, Whoosh bukan sekadar kereta cepat, tapi simbol harapan akan pelayanan publik yang modern dan berkualitas. Citra positif ini menjadi aset sosial penting yang harus dijaga, sambil terus memperbaiki aspek komersial dan konektivitasnya.

Tantangan terbesar Whoosh kini adalah menjangkau lebih banyak pengguna. Pemerintah dan operator perlu memperkuat konektivitas antarmoda, menyiapkan angkutan pengumpan yang nyaman, serta memperluas potensi ekonomi di sekitar stasiun Halim dan Tegalluar.

Selain itu, peluang kerja sama dengan sektor pariwisata dan korporasi terbuka lebar. Konsep “Whoosh + Glamping Lembang” atau “Whoosh + Heritage Trip Asia-Afrika” dapat menggaet wisatawan urban, sementara kawasan Tegalluar bisa dikembangkan menjadi pusat konferensi terpadu bagi perusahaan.

Kritik terhadap Whoosh bukan penolakan, melainkan pengingat bahwa proyek ini perlu dibenahi. Tanpa perbaikan serius dalam keterjangkauan dan integrasi, Whoosh berisiko menjadi monumen teknologi yang hanya dinikmati segelintir kalangan.

Padahal, potensi besarnya terletak pada kemampuannya menjadi katalisator pertumbuhan logistik dan pariwisata Jawa. Bila jalurnya kelak terhubung hingga Surabaya dan sistem logistik nasional semakin solid, Whoosh dapat benar-benar menjadi tulang punggung mobilitas masa depan.

Whoosh tidak boleh berhenti sebagai ikon kemajuan yang jauh dari rakyatnya. Ia harus menjadi bagian dari keseharian masyarakat—cepat, terjangkau, dan manusiawi. Jika tidak, Whoosh hanya akan dikenang sebagai kereta cepat yang gagal mengantarkan perubahan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....