Mercusuar Willem’s Toren, Penjaga Abadi Ujung Barat Indonesia
- 18 Okt 2025 13:03 WIB
- Manado
KBRN, Manado: Berdiri kokoh di atas bukit cadas Pulau Breueh, Kecamatan Pulo Aceh, Mercusuar Willem’s Toren III menjadi salah satu saksi bisu sejarah panjang navigasi maritim di ujung barat Nusantara. Menara suar yang dibangun pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1875 ini masih berfungsi hingga kini, memandu kapal-kapal yang melintasi Selat Malaka dan Samudra Hindia.
Mercusuar ini dikelola oleh Distrik Navigasi (Disnav) Kelas II Sabang, di bawah Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan. Wilayah kerja Disnav Sabang mencakup dua pertiga perairan Aceh—mulai dari pantai barat Simeulue hingga Sabang, pantai selatan Tapak Tuan, hingga pantai timur Lhokseumawe. Pengawasan juga mencakup pulau-pulau terluar seperti Pulau Rondo, Pulau Benggala, dan Pulau Salaut.
Tugas utama Disnav Sabang adalah memastikan keselamatan pelayaran melalui pengawasan dan pemeliharaan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP) seperti mercusuar, rambu suar, dan pelampung suar. Mercusuar berfungsi sebagai penanda lokasi, peringatan bahaya, serta pemandu masuk pelabuhan. Meski teknologi navigasi modern seperti GPS dan radar telah berkembang, keberadaan mercusuar tetap vital di perairan dunia, termasuk di Aceh.
Mercusuar Willem’s Toren III memiliki keistimewaan tersendiri. Ia merupakan satu dari tiga mercusuar kembar yang dibangun Belanda di dunia, bersama dua lainnya di Belanda (kini menjadi museum) dan di Kepulauan Karibia. Nama “Willem’s Toren” diambil dari Raja Belanda saat itu, Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk.
Bangunan bergaya arsitektur Belanda ini berbentuk silinder setinggi 85 meter dengan dinding setebal satu meter, menempati area sekitar 20 hektar yang dahulu juga menjadi kompleks perwira Belanda. Letaknya di ketinggian 310 meter di atas permukaan laut membuatnya tampak gagah dan mudah terlihat dari kejauhan.
Pembangunannya tidak lepas dari gejolak sejarah. Catatan G.F.W. Borel dalam buku Onze Vestiging in Atjeh menyebut, proyek mercusuar ini sempat dihadang oleh para pejuang Aceh di bawah pimpinan Teungku Chik di Tiro. Belanda bahkan mendatangkan pasukan tambahan serta menggunakan kerja paksa dari ratusan pekerja, termasuk dari Ambon, demi menuntaskan proyek strategis itu.
Kini, meski usianya telah lebih dari satu abad, Willem’s Toren III tetap beroperasi dengan baik dan menjadi simbol ketahanan sekaligus warisan sejarah penting di Aceh.
Selain berfungsi sebagai sarana navigasi, kompleks mercusuar ini kini menjadi destinasi wisata sejarah yang menarik. Dari puncak menara, pengunjung dapat menikmati panorama Samudra Hindia dan hijaunya perbukitan Pulo Aceh. Banyak wisatawan datang untuk menikmati keindahan alam sekaligus mengenang sejarah maritim di masa kolonial.
Akses menuju lokasi memang masih terbatas. Dari Sabang, perjalanan ke Pulau Breueh memakan waktu sekitar empat jam menggunakan kapal motor, atau tiga jam jika berangkat dari Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. Setibanya di dermaga Ujong Peuneung, pengunjung harus melanjutkan perjalanan darat sekitar 30 menit dengan mobil pick-up menuju mercusuar.
Pemerintah daerah dan swasta diharapkan dapat berkolaborasi memperbaiki infrastruktur dasar, seperti memperpanjang dermaga agar kapal cepat bisa merapat langsung, memperbaiki jalan menuju menara, hingga menambah fasilitas transportasi lokal dan penginapan.
Pulau Breueh sendiri menawarkan pesona alami yang memesona—pantai berpasir putih, laut biru kehijauan, hingga hutan tropis yang masih rimbun. Banyak wisatawan dan pemancing datang menikmati ketenangan serta keindahan pulau yang dijuluki “Pulau Beras” ini.
Lebih dari sekadar bangunan tua, Mercusuar Willem’s Toren III adalah simbol sejarah, ketahanan, dan kebanggaan maritim Indonesia—yang terus memancarkan cahayanya, menerangi batas barat negeri ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....