Kapal Perintis Jadi Nadi Ekonomi Warga NTT
- 14 Okt 2025 11:23 WIB
- Manado
KBRN, Manado: Transportasi laut menjadi urat nadi mobilitas masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), wilayah kepulauan yang terdiri atas pulau-pulau besar dan kecil seperti Flores, Timor, Sumba, Alor, Rote, dan Sawu. Di tengah keterbatasan transportasi udara dengan tarif tinggi dan daya angkut rendah, keberadaan Kapal Perintis berperan vital dalam menghubungkan aktivitas sosial dan ekonomi warga antar pulau.
Menurut Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Kupang, Simon Bonefasius Baon, di Pangkalan Kupang terdapat empat armada Kapal Perintis aktif. Dua di antaranya dioperasikan oleh PT Pelni, yaitu KM Sabuk Nusantara 90 dan KM Sabuk Nusantara 79, sementara dua lainnya oleh operator swasta, KM Sabuk Nusantara 55 dan KM Sabuk Nusantara 38.
“Kapal Perintis ini tidak hanya melayani wilayah NTT, tapi juga sampai ke Maluku Barat Daya (MBD) dan Bima, NTB. Pelni melayani trayek antar pulau besar dan kecil, mengangkut penumpang sekaligus barang kebutuhan pokok,” jelas Simon.
Kapal Perintis menjadi andalan masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Jadwal pelayaran dilakukan berdasarkan round trip selama 11–12 hari dengan rata-rata dua kali perjalanan setiap bulan.
Para penumpang didominasi masyarakat ekonomi menengah ke bawah serta pelaku UMKM yang membawa sembako dan bahan sandang ke wilayah 3T, kemudian kembali ke Kupang membawa hasil bumi seperti kopra, jagung, kemiri, dan ikan segar.
“Bagi warga Pulau Ndao dan Sabu, Kapal Perintis adalah satu-satunya akses ke Kupang. Bahkan masyarakat MBD lebih bergantung ke NTT daripada ke Ambon karena jarak yang lebih dekat,” ujar Simon menambahkan.
Pemerintah terus mendorong kemandirian pangan di NTT melalui penguatan konektivitas laut. Saat ini dua wilayah menjadi lokus utama produksi pangan, yakni Kabupaten Belu dan Sumba Tengah. Namun pasokan pangan lokal belum mencukupi kebutuhan di 22 kabupaten/kota, sehingga pasokan masih bergantung dari Bima, Sulawesi, dan Jawa Timur.
Produk unggulan seperti jagung dan rumput laut menjadi komoditas potensial, tetapi masih dijual mentah karena minimnya industri pengolahan. Simon menilai, tambahan armada kapal serta pembangunan pabrik pengolahan hasil bumi akan memperkuat ekonomi NTT.
Selain kapal penumpang, NTT juga memiliki kapal khusus ternak sejak masa Presiden Joko Widodo. Pelabuhan Kupang kini menjadi pangkalan lima kapal ternak yang melayani pengiriman sapi ke Jawa, Kalimantan, hingga Sumatra, antara lain KM Cemara Nusantara 1–5.
“NTT telah menjadi provinsi swasembada daging untuk kebutuhan nasional. Kapal ternak ini bagian dari tol laut yang memperlancar distribusi dan menjaga harga tetap stabil,” kata Simon.
Pemerintah pusat terus menyalurkan subsidi besar untuk menjaga keberlanjutan layanan kapal perintis. Dari total subsidi transportasi publik Kementerian Perhubungan tahun 2024 sebesar Rp4,39 triliun, sekitar Rp1,95 triliun dialokasikan untuk angkutan laut, termasuk 105 trayek perintis laut dan 6 trayek kapal ternak.
Namun, dua tantangan besar masih dihadapi: cuaca ekstrem dan keterbatasan sumber daya manusia (SDM) pelayaran. Cuaca di Laut Arafura dan MBD kerap menghambat jadwal pelayaran, sementara tenaga pelaut profesional masih banyak didatangkan dari luar NTT karena belum ada Politeknik Pelayaran di daerah tersebut.
“Kami berharap ada lembaga pendidikan pelayaran berstandar nasional di NTT agar SDM lokal bisa bersaing,” tutur Simon.
Keberadaan Kapal Perintis terbukti bukan sekadar alat transportasi, melainkan penggerak ekonomi dan perekat konektivitas antar pulau di wilayah 3T. Tanpa subsidi dan dukungan armada tambahan, denyut ekonomi masyarakat pesisir di NTT akan berjalan lebih lambat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....