Bus Perintis Dorong Pemerataan Ekonomi dan Konektivitas Aceh

  • 11 Okt 2025 08:12 WIB
  •  Manado

KBRN, Manado: Keberadaan bus perintis di Provinsi Aceh tidak hanya menjadi sarana transportasi, tetapi juga motor penggerak pembangunan, pemerataan ekonomi, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat di wilayah terpencil.

Berdasarkan data Perum Damri Cabang Aceh (2025), layanan bus perintis saat ini mencakup 12 rute sepanjang 999 kilometer. Rute tersebut menghubungkan berbagai wilayah, mulai dari Sinabang–Sibigo (188 km) hingga Blang Puyuk–Ujong Fatihah (84 km).

Dari total panjang lintasan itu, terdapat 629 km jalan beraspal, sementara sisanya terdiri dari jalan tanah, berbatu tajam, berpasir, dan tanjakan curam. Bus perintis juga melewati 211 sekolah, 42 rumah sakit, 41 pasar, 149 perkantoran, dan 14 terminal penumpang di seluruh Aceh.

Program angkutan perintis ini dijalankan Perum Damri dengan subsidi pemerintah melalui Kementerian Perhubungan, sebagai wujud komitmen negara menghadirkan transportasi publik merata hingga pelosok.

Kepala Cabang Perum Damri Aceh menjelaskan, keberadaan bus perintis memiliki empat manfaat utama bagi masyarakat:

1. Membuka keterisolasian wilayah.

Banyak desa di Aceh sebelumnya sulit diakses karena minim transportasi umum. Bus perintis kini menghubungkan daerah-daerah terpencil dengan pusat kecamatan dan kota, memudahkan mobilitas warga.

2. Mendorong ekonomi lokal.

Akses transportasi yang lebih baik memungkinkan petani dan pedagang mengangkut hasil bumi ke pasar kota dengan biaya murah. Hal ini memperlancar distribusi dan meningkatkan pendapatan warga pedalaman.

3. Mempermudah akses layanan publik.

Bus perintis membantu masyarakat menuju sekolah, rumah sakit, kantor pemerintahan, dan fasilitas umum lainnya tanpa harus mengeluarkan biaya tinggi.

4. Menjadi transportasi murah dan aman.

Dengan tarif bersubsidi hanya beberapa ribu rupiah, bus perintis menjadi pilihan utama masyarakat, terutama pelajar, lansia, dan perempuan yang membutuhkan transportasi terjangkau dan terpercaya.

Di Pulau Simeulue, dua rute bus perintis — Sinabang–Sibigo dan Sinabang–Alafan — menjadi tulang punggung konektivitas antarwilayah. Sebelum ada layanan ini, masyarakat di Simeulue Barat dan Alafan harus menempuh perjalanan hingga lima jam dengan kendaraan sewaan berbiaya tinggi.

Kini, bus perintis hadir secara rutin dengan tarif murah, membuka akses ekonomi dan sosial. Warga lebih mudah menjual hasil bumi ke pasar Sinabang, sementara pelajar dan pasien dapat bepergian ke kota tanpa hambatan biaya.

“Bus perintis membuat mobilitas warga Simeulue jauh lebih mudah dan teratur,” kata salah satu warga Alafan. “Kami bisa berangkat ke kota tanpa takut ongkos mahal.”

Meski memiliki peran vital, operasional bus perintis di Aceh tidak lepas dari kendala. Sekitar 57 kilometer ruas jalan yang dilalui masih dalam kondisi rusak. Saat cuaca ekstrem, beberapa armada bahkan tidak bisa beroperasi karena medan berat.

Selain itu, sebagian armada berusia di atas tujuh tahun, sehingga sudah saatnya dilakukan peremajaan kendaraan guna menjaga kenyamanan dan keselamatan penumpang.

Pemerintah pusat diharapkan terus memperkuat dukungan terhadap program bus perintis di Aceh agar layanan transportasi publik tetap hadir bagi seluruh lapisan masyarakat, dari kota hingga pelosok.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....