Kereta Api Cut Meutia, Napas Baru Transportasi Aceh

  • 07 Okt 2025 14:47 WIB
  •  Manado

KBRN, Manado: Suara peluit dan deru mesin dari Stasiun Krueng Geukueh menandai berangkatnya Kereta Api (KA) Cut Meutia — satu-satunya moda rel aktif di Provinsi Aceh. Sejak pertama kali beroperasi pada 1 Desember 2013, kereta perintis ini menjadi ikon kebangkitan transportasi massal berbasis rel di ujung barat Indonesia.

Dengan tarif hanya Rp 2.000 per perjalanan, Cut Meutia menghubungkan Krueng Geukueh di Kabupaten Aceh Utara hingga Kutablang di Kabupaten Bireuen. Jalur sepanjang 21,45 kilometer itu ditempuh dalam waktu sekitar satu jam, dengan delapan kali perjalanan setiap harinya.

Sejarah perkeretaapian Aceh dimulai pada tahun 1876, ketika pemerintah kolonial Belanda membangun jalur pertama dari Pelabuhan Ulee Lheue ke Kutaraja (Banda Aceh) sejauh 5 kilometer. Awalnya, jalur ini digunakan untuk kepentingan militer dalam Perang Aceh — mengangkut pasukan, senjata, dan logistik perang.

Pembangunan terus meluas hingga mencapai 502 kilometer, membentang dari Ulee Lheue, Banda Aceh, Sigli, Lhokseumawe, Langsa, hingga Pangkalan Susu di Sumatera Utara. Jalur ini dikelola oleh perusahaan Atjeh Tram (AT) yang kemudian berubah menjadi Atjeh Staatsspoorwegen (ASS).

Namun, setelah kemerdekaan, kejayaan itu meredup. Banjir bandang tahun 1976 menghancurkan jembatan rel di Sungai Bengga, Pidie — awal dari berakhirnya era kereta api Aceh. Masyarakat beralih ke transportasi darat, hingga akhirnya seluruh operasi kereta di Aceh resmi berhenti pada 1982.

Empat dekade berselang, pemerintah kembali menghidupkan rel di Aceh melalui proyek reaktivasi jalur Lhokseumawe–Bireuen. KA Cut Meutia pun lahir sebagai simbol reinkarnasi transportasi rel di provinsi ini. Kereta ini menggunakan Kereta Rel Diesel Indonesia (KRDI) buatan PT INKA, dan dioperasikan oleh PT KAI Divre I Sumatera Utara di bawah penugasan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. Layanan ini juga didukung oleh Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Medan, yang mengelola jaringan rel di Aceh, Sumatera Utara, dan Riau.

Selama periode Januari–Agustus 2025, Cut Meutia telah mengangkut 30.527 penumpang dengan tingkat keterisian rata-rata 11%. Meski angka ini belum ideal, kehadirannya menjadi sarana penting edukasi transportasi publik bagi masyarakat Aceh.

Di sepanjang rel, masinis harus ekstra waspada. Banyak perlintasan sebidang di antara rumah warga, sehingga sirine peringatan (semboyan 35) nyaris tak pernah berhenti berbunyi selama perjalanan. Namun, ada sejumlah kendala yang masih membayangi. Jalur Krueng Geukueh–Muara Satu sejauh 8 kilometer yang telah dibangun sejak 2023, hingga kini belum juga beroperasi meski fasilitasnya sudah siap. Stasiun Muara Satu bahkan disebut sebagai yang paling lengkap dan luas di lintas ini.

Sayangnya, beberapa instalasi Jalur Perlintasan Langsung (JPL) kerap hilang akibat pencurian, sehingga harus diganti berulang kali oleh kontraktor. Masalah keamanan dan vandalisme menjadi tantangan tersendiri bagi keberlanjutan layanan.

Saat ini, KA Cut Meutia hanya mengandalkan satu rangkaian dengan dua gerbong penumpang. Tanpa unit cadangan, jika kereta mengalami gangguan, maka layanan otomatis berhenti total. Ditambah lagi, kereta masih menggunakan kipas angin, tanpa pendingin ruangan (AC), membuat perjalanan terasa panas di siang hari.

Persepsi masyarakat pun belum sepenuhnya terbentuk. Banyak yang menganggap Cut Meutia bukan sebagai moda transportasi utama, melainkan sekadar sarana rekreasi. Kondisi ini pernah membuat layanan sempat berhenti pada tahun 2014 karena minim penumpang.

Padahal, reaktivasi jalur ini merupakan bagian penting dari rencana besar Trans-Sumatera Railway, yang menargetkan konektivitas rel dari Aceh hingga Lampung. Hambatan utamanya kini adalah pendanaan — baik untuk memperpanjang lintasan ke Bireuen maupun menambah armada.

Kehadiran KA Cut Meutia menjadi napas baru transportasi Aceh. Ia bukan sekadar kereta yang bergerak di atas rel, tetapi simbol tekad untuk mengembalikan warisan mobilitas masa lalu ke masa kini. Di tengah panas siang dan deru mesin, kereta kecil itu terus melaju — membawa harapan bahwa suatu hari nanti, rel Aceh akan kembali bersambung dari Lhokseumawe hingga Banda Aceh, bahkan lebih jauh ke seluruh Sumatera. Meski jalurnya masih terbatas, kehadirannya menjadi simbol harapan untuk mengembalikan kejayaan perkeretaapian di Tanah Rencong.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....