Ini Bedanya Ikan Nila dan Mujair

  • 07 Jan 2026 18:42 WIB
  •  Manado

KBRN, Manado: Bagi pengunjung pasar tradisional maupun supermarket, ikan nila dan ikan mujair kerap dianggap sama. Keduanya memiliki bentuk tubuh lonjong pipih, warna keabu-abuan, serta sering dijual berdampingan. Namun di balik kemiripan tersebut, ikan nila dan mujair ternyata memiliki sejumlah perbedaan mendasar, mulai dari asal-usul, bentuk tubuh, rasa daging, hingga nilai gizinya.

Dikutip dari laman Fibercreme.com, perbedaan ikan nila dan mujair dapat dikenali dari beberapa aspek berikut.

Perbedaan pertama terletak pada asal dan jenisnya. Ikan mujair merupakan spesies yang pertama kali ditemukan dan dibudidayakan di Indonesia. Ikan ini diperkenalkan oleh seorang nelayan asal Blitar, Jawa Timur, bernama Mujair pada era 1930-an. Nama penemunya kemudian diabadikan sebagai nama ikan tersebut. Secara ilmiah, mujair dikenal dengan nama Oreochromis mossambicus.

Sementara itu, ikan nila berasal dari Afrika Timur dan masuk ke Indonesia beberapa dekade setelah mujair. Nama latinnya Oreochromis niloticus, yang berarti ikan dari Sungai Nil. Meski masih satu keluarga, nila dan mujair berasal dari habitat yang berbeda.

Dari segi bentuk tubuh dan warna, ikan mujair cenderung berwarna keabu-abuan gelap dengan sisik lebih tipis dan perut yang lebih pucat. Sirip punggung dan ekornya juga tampak lebih gelap. Berbeda dengan ikan nila yang memiliki warna abu keperakan hingga kemerahan, terutama pada jenis nila merah. Tubuh nila terlihat lebih lebar dan pipih, sehingga tampilannya dinilai lebih menarik dan sering menjadi pilihan restoran.

Perbedaan berikutnya terdapat pada rasa dan tekstur daging. Daging mujair dikenal lebih gurih dan lembut, namun berpotensi memiliki aroma lumpur jika tidak diolah dengan benar. Oleh karena itu, mujair biasanya direndam terlebih dahulu dengan air jeruk nipis atau garam sebelum dimasak. Sementara daging ikan nila cenderung lebih tebal, padat, dan sedikit manis, dengan aroma tanah yang lebih ringan. Tekstur ini membuat nila cocok diolah menjadi berbagai menu seperti ikan bakar, pepes, hingga fillet goreng.

Dari sisi harga dan ketersediaan, ikan mujair umumnya dijual dengan harga lebih terjangkau karena mudah dibudidayakan dan pertumbuhannya relatif cepat. Sebaliknya, ikan nila memiliki nilai jual lebih tinggi karena ukuran tubuhnya lebih besar dan tampilan fisiknya lebih menarik. Di kota-kota besar, ikan nila lebih mudah ditemukan di supermarket dan restoran seafood.

Meski berbeda, kedua jenis ikan ini sama-sama memiliki kandungan gizi yang baik. Ikan nila dan mujair kaya akan protein, omega-3, serta rendah lemak jenuh. Kandungan protein ikan nila diketahui sedikit lebih tinggi, sementara mujair unggul dari sisi kadar lemak yang lebih rendah, sehingga cocok untuk menu diet. Keduanya tetap menyehatkan asalkan diolah dengan cara yang tepat, seperti dikukus, dibakar, atau dipanggang.

Dengan mengenali perbedaan tersebut, masyarakat diharapkan tidak lagi keliru dalam memilih ikan sesuai kebutuhan dan selera.

// RIEKE MAMUAJA //

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....