Bahaya Makanan Gosong dan Minyak Jelantah bagi Kesehatan
- 26 Jun 2026 15:17 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Pola makan tidak hanya ditentukan oleh jenis makanan yang dikonsumsi, tetapi juga cara pengolahannya. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui laman resminya kemkes.go.id menegaskan bahwa metode memasak yang tidak tepat dapat menghasilkan senyawa berbahaya yang berpotensi meningkatkan risiko kanker.
Memasak makanan pada suhu sangat tinggi, seperti membakar, memanggang hingga gosong, atau menggoreng terlalu lama, dapat memicu terbentuknya senyawa heterocyclic amines (HCA) dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH). Senyawa tersebut sering ditemukan pada daging merah, ayam, dan ikan yang dimasak hingga hangus.
Untuk mengurangi risiko tersebut, masyarakat dianjurkan menghindari makanan yang gosong, menggunakan suhu sedang saat memasak, membalik bahan makanan secara berkala, serta membuang bagian yang telah hangus sebelum dikonsumsi.
Selain itu, metode memasak yang lebih sehat, seperti merebus, mengukus, menumis dengan sedikit minyak, slow cooking pada suhu rendah, serta pressure cooking. Teknik-teknik tersebut dinilai mampu mempertahankan kandungan gizi sekaligus meminimalkan pembentukan zat karsinogenik atau pemicu kanker.
Penggunaan minyak goreng juga perlu diperhatikan. Minyak yang dipanaskan berulang kali dapat mengalami kerusakan kimia dan menghasilkan radikal bebas serta senyawa toksik yang berbahaya bagi kesehatan jika dikonsumsi dalam jangka panjang.
Kebersihan bahan makanan menjadi faktor penting lainnya. Buah dan sayuran disarankan dicuci di bawah air mengalir, direndam sebentar dengan air bersih, serta dikupas bila diperlukan. Penggunaan talenan yang berbeda untuk bahan mentah dan makanan matang juga dianjurkan guna mencegah kontaminasi silang.
Batasi konsumsi makanan yang diasap, diawetkan dengan nitrit, atau termasuk dalam kategori daging olahan seperti sosis dan kornet. Konsumsi berlebihan makanan tersebut diketahui memiliki kaitan dengan peningkatan risiko kanker saluran pencernaan.
Sementara itu, proses marinasi sebelum memasak daging dapat membantu menekan pembentukan senyawa karsinogen saat proses pemasakan suhu tinggi. Bahan-bahan seperti bawang putih, kunyit, jahe, lemon, cuka, dan berbagai rempah yang kaya antioksidan dianjurkan digunakan sebagai bumbu marinasi selama minimal 30 menit.
Di sisi lain, konsumsi sayuran dan makanan tinggi serat juga perlu ditingkatkan. Sayuran mengandung antioksidan yang berperan melindungi tubuh dari risiko kanker. Namun, proses memasak yang terlalu lama dapat mengurangi kandungan gizinya. Karena itu, sayuran sebaiknya dikukus atau ditumis sebentar agar manfaat nutrisinya tetap terjaga.
Penyimpanan makanan yang tepat juga menjadi bagian penting dalam pencegahan kanker. Makanan matang perlu disimpan di lemari pendingin jika tidak langsung dikonsumsi, sementara bahan pangan kering harus dijaga agar tidak lembap untuk menghindari pertumbuhan jamur penghasil aflatoksin yang berisiko menyebabkan kanker hati.
Selain itu, masyarakat dianjurkan menghindari penggunaan wadah plastik yang tidak tahan panas saat memanaskan makanan. Sebagai gantinya, gunakan wadah berbahan kaca, keramik tahan panas, atau stainless steel yang aman untuk makanan.
Pencegahan kanker tidak hanya bergantung pada pilihan makanan, tetapi juga cara mengolah, menyimpan, dan menyajikannya. Kebiasaan sederhana di dapur dapat memberikan dampak besar terhadap kesehatan dalam jangka panjang.
(Sumber:kemkes.go.id)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....