Kesalahan saat Menjalani Intermittent Fasting

  • 20 Jun 2026 22:06 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – Intermittent fasting (IF) atau puasa intermiten menjadi salah satu metode diet yang semakin populer karena dinilai efektif membantu menurunkan berat badan, mengurangi lemak tubuh, serta memperbaiki kesehatan metabolik. Berdasarkan informasi dari Kementerian Kesehatan kemkes.go.id metode ini dilakukan dengan mengatur waktu makan dan puasa dalam periode tertentu sehingga dapat membantu mengontrol asupan kalori dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.

Banyak orang yang masih melakukan kesalahan saat menjalankan intermittent fasting, terutama pada tahap awal. Kesalahan-kesalahan ini dapat mengurangi efektivitas diet bahkan berisiko menimbulkan gangguan kesehatan.

Salah satu kesalahan yang paling sering terjadi adalah kurang memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Banyak pelaku diet lebih fokus pada jadwal makan dan puasa, tetapi lupa mencukupi asupan air putih. Kondisi ini dapat menyebabkan dehidrasi yang ditandai dengan tubuh lemas, sulit berkonsentrasi, hingga gangguan fungsi organ.

Kesalahan lainnya adalah mengonsumsi makanan tidak sehat saat jendela makan. Sebagian orang menganggap waktu makan sebagai kesempatan untuk makan apa saja tanpa batas. Padahal, makanan tinggi gula, lemak trans, gorengan, serta makanan olahan justru dapat menghambat manfaat puasa intermiten dan meningkatkan risiko penyakit seperti diabetes serta gangguan jantung.

Pola tidur yang tidak teratur juga menjadi faktor yang sering diabaikan. Kurang tidur atau sering begadang dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh sehingga efektivitas puasa menurun dan tubuh lebih sulit beradaptasi dengan pola makan baru.

Selain itu, sebagian orang terlalu ketat membatasi asupan kalori dengan harapan berat badan turun lebih cepat. Padahal, pengurangan kalori secara drastis dapat menyebabkan kekurangan nutrisi penting yang memicu rasa lemas, pusing, dan risiko defisiensi gizi.

Seseorang memperhatikan kondisi kesehatannya sebelum menjalani intermittent fasting. Metode ini tidak selalu cocok untuk semua orang, terutama bagi penderita penyakit kronis, ibu hamil, atau ibu menyusui. Konsultasi dengan tenaga kesehatan disarankan sebelum memulai program diet ini.

Kurangnya konsistensi dalam menerapkan pola makan sehat menjadi kesalahan berikutnya. Sebagian orang kembali ke kebiasaan makan yang kurang sehat setelah berhasil menjalani puasa, sehingga manfaat yang telah diperoleh sulit dipertahankan dalam jangka panjang.

Di sisi lain, makan berlebihan saat waktu berbuka atau jendela makan juga dapat menghambat proses penurunan berat badan. Konsumsi makanan tinggi kalori, gula, dan lemak secara berlebihan membuat jumlah energi yang masuk tetap tinggi meskipun seseorang berpuasa dalam waktu tertentu.

Minuman bersoda juga sebaiknya dihindari selama menjalani intermittent fasting. Kandungan pemanis dalam soda dapat memengaruhi rasa lapar dan membuat seseorang cenderung makan lebih banyak pada waktu makan berikutnya. Selain itu, minuman berkafein juga dapat memberikan efek berbeda pada setiap individu.

Untuk mendukung keberhasilan diet, asupan protein dan serat perlu diperhatikan. Makanan seperti daging, ikan, unggas, kacang-kacangan, biji-bijian, buah, dan sayuran dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama serta menjaga massa otot selama proses penurunan berat badan.

Terakhir, pelaku diet diimbau untuk tidak mudah menyerah ketika sesekali melakukan kesalahan jadwal makan. Satu kali pelanggaran tidak akan menggagalkan seluruh proses yang telah dijalani. Yang terpenting adalah melakukan evaluasi, menyesuaikan pola makan dengan gaya hidup, dan tetap berfokus pada konsumsi makanan bergizi seimbang.

Dengan penerapan yang tepat dan konsisten, intermittent fasting dapat menjadi salah satu pilihan pola hidup sehat untuk membantu menjaga berat badan dan meningkatkan kesehatan tubuh secara menyeluruh.

(Sumber:kemkes.go.id)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....