Diet Alkali: antara Pola Hidup Sehat dan Klaim Manfaat Kesehatan
- 11 Mei 2026 05:04 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Diet alkali semakin dikenal di masyarakat sebagai salah satu pola makan yang diklaim mampu meningkatkan kesehatan tubuh secara menyeluruh. Pola makan ini menekankan konsumsi makanan bersifat basa seperti buah-buahan, sayuran, dan makanan nabati, serta membatasi makanan olahan, daging merah, hingga minuman berkafein dan beralkohol.
Mengutip dari laman resmi kemkes.go.id diet alkali pada dasarnya merupakan pengaturan pola makan yang berfokus pada keseimbangan pH tubuh. Dalam praktiknya, masyarakat yang menjalani diet ini dianjurkan untuk lebih banyak mengonsumsi makanan yang dianggap bersifat alkali atau basa, serta mengurangi makanan yang bersifat asam.
Beberapa pihak meyakini bahwa makanan yang bersifat asam dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, sehingga diet ini hadir dengan tujuan menciptakan keseimbangan pH tubuh melalui asupan makanan sehari-hari. Namun, secara ilmiah, tubuh manusia sebenarnya memiliki mekanisme alami yang mampu menjaga kestabilan pH darah tanpa terlalu dipengaruhi oleh jenis makanan yang dikonsumsi.
Meski demikian, diet alkali tetap dinilai memiliki sisi positif karena pola makan ini umumnya identik dengan konsumsi makanan yang padat nutrisi. Dengan dominasi buah dan sayur, diet ini secara tidak langsung mendorong masyarakat untuk mengurangi konsumsi makanan tinggi gula, makanan cepat saji, serta produk olahan yang rendah gizi.
Sejumlah klaim manfaat diet alkali juga beredar luas di masyarakat. Di antaranya adalah membantu menurunkan berat badan, meningkatkan kesehatan jantung, menjaga kekuatan tulang dan otot, hingga menurunkan risiko penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, hipertensi, dan stroke.
Selain itu, diet ini juga disebut dapat meningkatkan rasio mineral penting dalam tubuh seperti kalium dan natrium, serta membantu menjaga kepadatan tulang melalui peningkatan asupan kalsium dari sumber alami. Beberapa klaim lain bahkan menyebutkan bahwa pola makan ini dapat mendukung efektivitas terapi tertentu, termasuk kemoterapi, meskipun hal ini masih membutuhkan kajian ilmiah lebih lanjut.
Dalam praktiknya, diet alkali mengharuskan pelakunya untuk mengurangi konsumsi makanan hewani seperti daging merah, serta menggantinya dengan sumber protein nabati seperti kacang-kacangan dan tahu. Tantangan terbesar bagi sebagian orang adalah pembatasan pada makanan favorit serta perubahan gaya hidup yang cukup signifikan.
Meski demikian, diet alkali tetap dipandang lebih sebagai gaya hidup sehat dibandingkan metode medis instan. Fokus utamanya adalah membangun kebiasaan makan yang lebih baik dengan memperbanyak konsumsi makanan alami dan mengurangi makanan olahan.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola makan sehat, diet alkali menjadi salah satu alternatif yang banyak dilirik. Pentingnya keseimbangan gizi serta konsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menerapkan pola makan tertentu dalam jangka panjang.
(Sumber:kemkes.go.id)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....