Asal Usul Biapong Bakpao dan Makna Namanya

  • 23 Apr 2026 14:49 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID MANADO – Biapong atau yang lebih dikenal dengan nama bakpao merupakan salah satu makanan yang memiliki sejarah panjang dari kebudayaan Tionghoa. Sebagaimana dikutip dari laman www.britannica.com Secara umum, bakpao berasal dari Tiongkok dan dikenal sebagai makanan tradisional yang telah ada sejak ribuan tahun lalu.

Dalam bahasa aslinya, makanan ini disebut baozi, yaitu roti kukus yang diisi dengan berbagai bahan. Seiring perkembangan zaman, makanan ini menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia, dan mengalami penyesuaian rasa serta nama di berbagai daerah.

Secara etimologi, nama “bakpao” berasal dari dialek Hokkien, yaitu gabungan kata “bak” yang berarti daging dan “pao” yang berarti bungkusan. Dengan demikian, bakpao dapat diartikan sebagai “bungkusan berisi daging”. Pada awalnya, isian bakpao memang didominasi oleh daging babi sesuai dengan kebiasaan masyarakat Tionghoa. Namun, ketika masuk ke Indonesia, isian tersebut kemudian disesuaikan dengan budaya lokal, seperti menggunakan daging ayam, kacang hijau, cokelat, dan berbagai varian lainnya.

Istilah “biapong” sendiri merupakan bentuk adaptasi lokal dari kata “bakpao” yang mengalami perubahan pelafalan. Dalam proses akulturasi bahasa, kata asing sering disesuaikan dengan logat dan kebiasaan masyarakat setempat agar lebih mudah diucapkan. Perubahan dari “bakpao” menjadi “biapong” dipengaruhi oleh dialek lokal, khususnya di wilayah Sulawesi Utara, yang cenderung menambahkan atau mengubah bunyi di akhir kata. Oleh karena itu, “biapong” dapat dipahami sebagai sebutan lokal untuk bakpao yang telah menyatu dengan budaya masyarakat setempat.

Menurut legenda yang berkembang di Tiongkok, bakpao pertama kali diciptakan oleh seorang panglima perang terkenal bernama Zhuge Liang pada masa Tiga Kerajaan. Konon, ia membuat makanan berbentuk bulat dari adonan tepung berisi daging sebagai pengganti persembahan kepala manusia untuk menenangkan roh-roh yang marah. Dari sinilah bentuk bakpao yang bulat dan putih diyakini memiliki makna simbolis, dan kemudian berkembang menjadi makanan yang populer di kalangan masyarakat.

Dilansir dari laman www.indonesia.travel Di Indonesia sendiri, kehadiran biapong tidak lepas dari pengaruh budaya Tionghoa yang telah berbaur dengan budaya lokal sejak berabad-abad lalu. Proses akulturasi ini menjadikan biapong bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga bagian dari kekayaan kuliner Nusantara yang mencerminkan percampuran budaya. Di beberapa daerah seperti Manado, istilah biapong lebih populer dibandingkan bakpao, dan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Seiring waktu, biapong atau bakpao terus berkembang dengan berbagai inovasi, baik dari segi rasa, bentuk, maupun cara penyajian. Kini, bakpao tidak hanya dikenal sebagai makanan tradisional, tetapi juga sebagai jajanan modern yang digemari berbagai kalangan. Dari yang berisi manis hingga gurih, keberagaman ini menunjukkan bahwa bakpao mampu beradaptasi dengan selera masyarakat tanpa kehilangan identitas aslinya sebagai kuliner warisan budaya.

Kesimpulan

Biapong atau bakpao bukan sekadar makanan biasa, melainkan hasil dari perjalanan sejarah panjang dan percampuran budaya. Perubahan nama dari bakpao menjadi biapong menunjukkan bagaimana budaya lokal mampu mengadaptasi unsur luar tanpa menghilangkan makna aslinya. Kehadirannya menjadi bukti bahwa kuliner dapat menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai budaya dan generasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....