Angkak, Beras Merah Fermentasi Kaya Antioksidan
- 19 Apr 2026 11:54 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Angkak, beras fermentasi berwarna merah yang dihasilkan dari proses dengan jamur Monascus purpureus, semakin mendapat perhatian sebagai bahan alami yang memiliki berbagai manfaat kesehatan. Di Indonesia, bahan ini dikenal luas sebagai salah satu pendamping terapi tradisional, khususnya bagi penderita Demam Berdarah Dengue, karena dipercaya dapat membantu meningkatkan kadar trombosit.
Dikutip dari laman resmi polri.go.id angkak merupakan hasil fermentasi beras yang menghasilkan warna merah khas, sehingga tidak hanya dimanfaatkan untuk kesehatan, tetapi juga sebagai pewarna makanan alami. Selain itu, angkak juga digunakan sebagai pengawet serta bumbu masakan karena aroma unik yang dimilikinya.
Secara historis, angkak telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok untuk mengatasi berbagai penyakit. Konsumsinya pun beragam, mulai dari diseduh sebagai teh herbal hingga diolah dalam bentuk suplemen. Popularitasnya terus meningkat seiring dengan berkembangnya minat masyarakat terhadap bahan alami yang dianggap lebih aman dan minim efek samping.
Dalam dunia kesehatan, angkak mengandung berbagai senyawa bioaktif yang bermanfaat. Salah satu yang paling dikenal adalah monacolin K, senyawa yang bekerja mirip dengan Lovastatin, yaitu obat penurun kolesterol dari golongan statin. Senyawa ini mampu menghambat produksi kolesterol di hati, sehingga kadar kolesterol jahat atau LDL serta trigliserida dalam darah dapat ditekan. Karena itu, angkak kerap dimanfaatkan sebagai alternatif alami untuk membantu menjaga kadar kolesterol tetap stabil.
Selain itu, kemampuan angkak dalam menurunkan kadar LDL juga berdampak pada kelancaran peredaran darah. Dengan berkurangnya risiko penumpukan plak di pembuluh darah, kemungkinan terjadinya penyakit kardiovaskular seperti aterosklerosis, serangan jantung, dan stroke dapat diminimalkan. Kandungan antioksidan dan sifat antiradang dalam angkak turut berperan dalam menjaga elastisitas pembuluh darah serta mencegah penggumpalan darah.
Di Indonesia, angkak paling sering dikaitkan dengan upaya membantu pemulihan pasien DBD. Bahan ini dipercaya mampu merangsang sumsum tulang untuk memproduksi lebih banyak trombosit serta memperkuat sistem kekebalan tubuh dalam melawan infeksi. Namun demikian, para ahli menegaskan bahwa manfaat ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut, terutama terkait efektivitas dan dosis yang tepat. Oleh karena itu, penggunaan angkak tidak dapat menggantikan penanganan medis yang standar.
Manfaat lain yang juga menjadi perhatian adalah kemampuannya dalam mengontrol kadar gula darah. Kandungan senyawa seperti monascin dan ankaflavin diketahui dapat meningkatkan sensitivitas insulin serta mengurangi peradangan, sehingga membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil. Hal ini menjadikan angkak berpotensi dikonsumsi oleh penderita diabetes maupun individu yang ingin mencegah resistensi insulin.
Tak hanya itu, angkak juga dilaporkan memiliki efek dalam menstabilkan tekanan darah. Kandungan antioksidan di dalamnya membantu menjaga fungsi pembuluh darah tetap optimal. Bahkan, beberapa penelitian menyebutkan bahwa kombinasi ekstrak angkak dengan enzim nattokinase dari makanan tradisional Jepang, natto, dapat memberikan manfaat tambahan dalam mengontrol tekanan darah dan mencegah penyakit jantung.
Dalam aspek lain, angkak juga memiliki sifat antibakteri. Secara turun-temurun, bahan ini digunakan untuk membantu mengatasi infeksi, khususnya yang disebabkan oleh bakteri. Penelitian menunjukkan bahwa ekstrak angkak cukup efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri seperti Salmonella dan E. coli.
Lebih jauh, angkak juga dikaitkan dengan potensi dalam menurunkan risiko kanker. Kandungan antioksidan seperti monascin dan ankaflavin berperan dalam melawan radikal bebas serta mengurangi peradangan yang dapat memicu pertumbuhan sel kanker. Senyawa aktif dalam angkak juga diketahui mampu menghambat pertumbuhan sel abnormal dan mendukung mekanisme perlindungan tubuh terhadap kerusakan sel.
Penggunaan angkak harus dilakukan secara bijak. Konsultasi dengan tenaga medis tetap diperlukan, terutama bagi individu dengan kondisi kesehatan tertentu atau yang sedang menjalani pengobatan. Dengan pendekatan yang tepat, angkak dapat menjadi salah satu alternatif alami yang mendukung kesehatan tanpa mengesampingkan peran pengobatan modern.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....