Kuliner Ekstrem, Antara Tradisi dan Adrenalin Lidah

  • 23 Jul 2025 12:51 WIB
  •  Manado

KBRN,Manado: Dunia kuliner tidak hanya menawarkan makanan lezat dan menggugah selera, tapi juga pengalaman unik yang menantang adrenalin. Di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, kuliner ekstrem menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta tantangan dan wisatawan pencari pengalaman otentik.

Kuliner ekstrem merujuk pada makanan yang tidak biasa dikonsumsi secara umum, baik karena bentuk, rasa, bahan, maupun cara penyajiannya. Di Indonesia, beberapa contoh yang cukup terkenal antara lain sate ular, belalang goreng, telur penyu, dan tikus hutan bakar yang banyak ditemui di beberapa wilayah di Jawa, Kalimantan, dan Papua.

Sebagaimana dikutip dari laman cnntravel;world's strangest foods Menurut laporan CNN Travel (2023), kuliner ekstrem menjadi daya tarik pariwisata tersendiri, terutama bagi turis asing yang tertarik menjelajahi sisi eksotis suatu budaya. Salah satu contoh yang cukup ikonik adalah sarang burung walet yang dihargai tinggi di pasar internasional, meski berasal dari liur burung yang menempel di gua.

Di tingkat global, makanan ekstrem seperti balut (embrio bebek rebus dari Filipina), surströmming (ikan herring fermentasi dari Swedia), hingga fugu (ikan buntal beracun dari Jepang) menjadi simbol budaya kuliner ekstrem yang juga membawa risiko tersendiri.

“Kuliner ekstrem sering kali berkaitan erat dengan budaya lokal dan nilai tradisional. Namun, tetap diperlukan edukasi tentang keamanan pangan agar tidak membahayakan konsumen,” jelas Chef William Wongso, pakar kuliner Indonesia, dalam wawancara bersama Kompas TV (2022).

Meski menu-menu ini memicu rasa penasaran, banyak ahli gizi dan kesehatan menyarankan agar masyarakat berhati-hati. Beberapa bahan seperti ikan fugu hanya boleh diolah oleh koki bersertifikat karena racunnya bisa mematikan jika salah penanganan.

Kuliner atau Kontroversi?

Di sisi lain, kuliner ekstrem sering memunculkan kontroversi. Contohnya, konsumsi hewan yang dilindungi atau yang dianggap tabu secara etika. Lembaga lingkungan seperti WWF Indonesia mengingatkan bahwa konsumsi telur penyu dan daging satwa liar bisa mengganggu keseimbangan ekosistem.

Meskipun demikian, popularitas makanan ekstrem di media sosial terus meningkat. Banyak konten kreator makanan yang menjadikan kuliner ekstrem sebagai konten viral, yang turut mendongkrak minat wisata kuliner di daerah-daerah tertentu.

(Stanly Kalumata)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....