Mengenal Terapi Bakera Asal Minahasa
- 15 Jul 2024 05:15 WIB
- Manado
KBRN, Manado: Indonesia kaya akan sumberdaya alam yang melimpah. Kekayaan alam tersebut banyak dimanfaatkan untuk kemaslahatan masyarakat Indonesia, termasuk untuk pengobatan tradisional.
Pengobatan tradisional merujuk pada praktik kesehatan yang menggunakan metode dan ramuan turun temurun dari generasi ke generasi. Bisa berupa penggunaan tumbuhan obat, akupunktur, pijat, atau praktik spiritual.
Pengobatan tradisional memang bisa memiliki efektivitas yang bervariasi dan tidak selalu didukung oleh bukti ilmiah. Namun, banyak masyarakat percaya dan sangat mengandalkan pengobatan tradisional ini.
Di Minahasa, Sulawesi Utara, dikenal sebuah teknik pengobatan tradisional, yang dikenal dengan Bakera. Awalnya, Bakera ini diperuntukan bagi ibu yang baru melahirkan untuk mengeluarkan hawa dingin dalam tubuh dan memperlancar aliran darah, serta mengembalikan otot-otot yang kendor menjadi seperti semula.
Namun sekarang ini pengobatan tradisional Bakera sudah berkembang menjadi Terapi Bakera atau Spa Bakera. Tentunya fungsinya bukan lagi bagi wanita yang baru melahirkan tapi juga bagi mereka yang membutuhkan terapi ini, misalnya keseleo, patah tulang, menghilangkan capek, dan lain sebagainya.
Seperti pengobatan tradisional lainnya, Bakera juga mengandalkan daun-daun dan bagian dari tumbuhan yakni sepotong kayu kecil. Biasanya dedaunan tersebut terdiri dari daun jeruk limau, daun pala, daun balacai, serta serai, jahe, dan bawang putih.
Orang Minahasa jaman dulu percaya Bakera ini akan optimal manfaatnya jika rebusannya dimasak di Kure' (belanga dari tanah liat), dan dimasak di dodika (tungku), dan bukan di kompor. Mereka akan menolak jika ramuan Bakera dimasak di belanga biasa.
Setelah airnya mendidih, belanga akan ditaruh di bawah kursi, kemudian si pasien akan duduk di kursi tersebut dan diselimuti dengan kain tebal dengan tujuan uap yang keluar dari belanga akan terperangkap, seperti halnya jika kita melakukan sauna. Penutup belanga dibuka perlahan-lahan, disesuaikan dengan kemampuan pasien menolerir uap panas tersebut.
Proses Bakera selesai jika uap dari belanga tidak panas lagi. Biasanya si pasien sudah dalam keadaan mandi keringat dengan kulit kemerahan tapi rasanya segar.
Terapi Bakera pada awalnya sesuai tradisi orang Minahasa, ada pantangan tertentu bagi pasien. Pantangannya berupa makanan tertentu yang tidak boleh dimakan bahkan aromanya pun tidak boleh tercium. Sehingga biasanya orang yang menjalani terapi ini "diungsikan" ke tempat aman agar tidak menyalahi pantangan.
Kini, Terapi Bakera bukan hanya untuk wanita yang baru melahirkan saja. Seseorang yang mengalami keseleo, patah tulang, atau sekedar ingin mengusir "angin jahat" karena kelelahan, Terapi Bakera ini juga bisa jadi pilihan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....