Studi Ungkap Orang dengan Gangguan Jiwa Berat Meninggal 15-20 Tahun Lebih Awal
- 21 Sep 2026 22:31 WIB
- Manado
Poin Utama
- Berdasarkan perhitungan Rethink, kelompok ini 6,3 kali lebih rentan meninggal karena penyakit hati, 6 kali karena penyakit pernapasan, 3,8 kali karena penyakit kardiovaskular, dan 2,3 kali karena kanker.
- Selain penyakit fisik, tingkat kematian akibat bunuh diri tercatat 14,6 kali lipat lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak dirujuk ke layanan kesehatan mental khusus.
- Pihak Departemen Kesehatan dan Sosial Inggris menyatakan sedang menyiapkan kerangka layanan modern serta membuka 100 pusat kesehatan mental komunitas baru untuk mewujudkan sistem perawatan yang lebih terintegrasi.
RRI.co.id, Manado - Sebuah analisis data terbaru dari NHS yang dipublikasikan oleh badan amal Rethink Mental Illness mengungkapkan fakta yang mengkhawatirkan mengenai ketimpangan layanan kesehatan. Orang dewasa dengan gangguan mental berat (SMI) tercatat menghadapi risiko kematian dini 15 hingga 20 tahun lebih awal dibandingkan populasi umum.
Berdasarkan laporan tersebut, orang-orang dengan masalah kesehatan mental serius—yang didefinisikan sebagai mereka yang dirujuk ke layanan kesehatan mental sekunder spesialis—memiliki kemungkinan hampir 5,x kali lipat (4,8 kali) lebih besar untuk meninggal sebelum usia 75 tahun akibat berbagai penyakit fisik yang sebenarnya dapat dicegah.
Berikut adalah beberapa sorotan utama dari temuan laporan tersebut:
- Penyebab Utama Kematian: Penyakit seperti kanker, kardiovaskular, hati, dan pernapasan menyumbang lebih dari separuh (56,5%) dari seluruh kematian pada usia 18 hingga 74 tahun dengan masalah kesehatan mental berat di Inggris.
- Lonjakan Kasus: Jumlah kematian akibat penyakit kardiovaskular dan kanker di kalangan usia kerja yang hidup dengan penyakit mental berada di level tertinggi sejak pencatatan dimulai, masing-masing mencatat lebih dari 24.000 kematian pada periode 2022–2024.
- Faktor Pemicu: Laporan mengidentifikasi sejumlah faktor pemicu utama, mulai dari kemiskinan, perumahan yang buruk, tingginya tingkat merokok, kenaikan berat badan akibat efek obat, hingga fenomena "diagnostic overshadowing"—di mana gejala fisik pasien secara keliru dikaitkan begitu saja dengan penyakit mental mereka, sehingga investigasi medis yang tepat sering terlewatkan.
Menanggapi temuan ini, Mark Winstanley selaku Kepala Eksekutif Rethink menyebut kondisi tersebut sebagai sebuah skandal yang tidak boleh dibiarkan. Pemerintah dan instansi kesehatan didesak untuk memprioritaskan pemeriksaan kesehatan fisik rutin serta meningkatkan pendekatan terpadu guna memangkas kesenjangan layanan kesehatan ini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....