Psikiater: Ambisi Orang Tua Harus Selaras dengan Mental Anak
- 23 Jul 2026 15:44 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Orang tua diingatkan untuk menyesuaikan harapan terhadap prestasi anak dengan kapasitas mental yang dimiliki. Ambisi yang tidak sejalan dengan kemampuan anak dinilai dapat memicu tekanan psikologis hingga berdampak pada kesehatan mental mereka.
Psikiater Konsultan Anak dan Remaja, Tjhin Wiguna, mengatakan kapasitas mental anak tidak hanya ditentukan oleh tingkat kecerdasan atau IQ, tetapi juga kemampuan mengelola emosi, memahami diri, serta merencanakan aktivitas sehari-hari.
Menurutnya, setiap anak memiliki karakteristik dan kemampuan yang berbeda sehingga orang tua perlu memahami potensi masing-masing sebelum menetapkan target.
"Kalau ambisi orang tua tidak selaras dengan kapasitas mental atau kemampuan anak, itu bisa membuat anak tertekan. Tekanan yang berlangsung terus-menerus tentu akan berdampak pada produktivitas dan kualitas hidup anak," ujarnya dalam Talk Show Keluarga Sehat Kementerian Kesehatan RI.
Ia menjelaskan, tekanan yang terus diberikan justru dapat menurunkan prestasi anak. Sebaliknya, anak yang mendapat dukungan sesuai kemampuan dan minatnya akan lebih percaya diri untuk berkembang dan menetapkan target yang lebih tinggi.
Tjhin menambahkan, salah satu bentuk tekanan yang kerap tidak disadari orang tua adalah membandingkan anak dengan teman sebaya atau saudara. Kebiasaan tersebut dapat membuat anak kehilangan rasa percaya diri dan merasa tidak pernah mampu memenuhi harapan orang tua.
| Baca juga: Pahami Gejala Umum Tubuh Mengalami Dehidrasi |
"Kalau anak itu dibanding-bandingkan, lama-lama dia bisa menjadi rendah diri. Merasa kok aku kurang terus. Apalagi kalau orang tuanya tidak pernah puas dengan pencapaiannya," katanya.
Selain itu, tekanan akademik yang berlebihan, seperti jadwal belajar yang terlalu padat, tuntutan mengikuti berbagai les, hingga ekspektasi nilai tinggi, juga dapat memengaruhi kondisi psikologis anak. Dalam praktiknya sebagai psikiater anak dan remaja, Tjhin mengaku sering menemukan anak yang mengalami kecemasan, kehilangan motivasi belajar, hingga depresi akibat tekanan tersebut.
Ia mengimbau para orang tua lebih peka terhadap perubahan perilaku anak. Perubahan seperti menjadi lebih pendiam, kehilangan semangat, menarik diri dari keluarga, atau enggan berangkat ke sekolah dapat menjadi tanda awal adanya masalah kesehatan mental.
"Kalau terjadi perubahan perilaku yang tidak biasanya, kita perlu curiga. Ada sesuatu tidak sih yang terjadi pada kehidupan mereka? Kalau orang tua ragu, lebih baik segera berkonsultasi agar bisa dipastikan apakah itu masih dalam batas wajar atau sudah memerlukan penanganan," katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....