Kapan Amandel Harus Dioperasi? Ini Penjelasan Dokter THT
- 06 Jul 2026 16:02 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Pembesaran amandel tidak selalu berarti seseorang harus menjalani operasi. Penanganan radang amandel bergantung pada penyebab, tingkat keparahan, serta kondisi pasien.
Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (THT-KL) RSPI Sulianti Saroso, Vindina Rettha Arianingrum, mengatakan bahwa amandel merupakan organ normal yang dimiliki setiap orang sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh.
| Baca juga: Jangan Panik, ketika Anak Demam Tinggi |
Menurutnya, radang amandel dapat disebabkan oleh infeksi virus maupun bakteri. Pada infeksi virus, pengobatan umumnya cukup dengan terapi simptomatik seperti obat penurun demam, pereda nyeri, obat kumur, vitamin, serta istirahat yang cukup.
"Kalau penyebabnya virus, tidak perlu antibiotik. Antibiotik hanya diberikan bila ada indikasi infeksi bakteri," katanya dalam Talkshow Keluarga Sehat Kementerian Kesehatan.
Dokter akan menentukan penyebab infeksi melalui pemeriksaan fisik dan, bila diperlukan, pemeriksaan penunjang seperti tes darah atau pemeriksaan khusus untuk mendeteksi bakteri difteri maupun virus tertentu.
Vindina menjelaskan bahwa pembesaran amandel dibagi dalam beberapa derajat. Pada kondisi tertentu, amandel memang dapat tetap membesar meski infeksinya sudah tidak aktif akibat peradangan yang berulang.
Ia mengimbau masyarakat tidak langsung menganggap pembesaran amandel sebagai kondisi yang harus dioperasi. Langkah pertama adalah memeriksakan diri ke dokter umum atau dokter spesialis THT agar mendapatkan diagnosis dan terapi yang tepat.
Meski demikian, masyarakat perlu waspada apabila nyeri tenggorokan semakin berat, muncul bercak putih pada amandel, terjadi pembengkakan leher, atau muncul sesak napas. Kondisi tersebut memerlukan pemeriksaan medis segera karena dapat menandakan infeksi bakteri serius, termasuk difteri yang berpotensi menimbulkan komplikasi berbahaya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....