Anemia Masih Menjadi Masalah Kesehatan Serius di Indonesia
- 05 Jul 2026 08:28 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Anemia merupakan kondisi medis yang terjadi ketika jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin (Hb) dalam darah berada di bawah normal. Hemoglobin sendiri berperan penting dalam mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Ketika kadar Hb menurun, tubuh akan kekurangan oksigen sehingga penderita sering merasakan gejala seperti 5L, yaitu lemah, letih, lesu, lelah, dan lalai.
Selain itu, penderita anemia juga dapat mengalami pucat, pusing, sakit kepala, mata berkunang-kunang, hingga sesak napas. Kondisi ini tidak hanya menurunkan kualitas hidup, tetapi juga berdampak pada produktivitas kerja dan kesejahteraan keluarga.
Data Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mencatat bahwa sekitar 1,3 miliar penduduk dunia menderita anemia dengan prevalensi mencapai 32,9 persen. Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 menunjukkan angka anemia yang masih tinggi pada kelompok usia muda, yaitu 23,8 persen pada usia 0–4 tahun, 15,3 persen pada usia 5–14 tahun, dan 15,5 persen pada usia 15–24 tahun.
Di Indonesia, anemia masih menjadi masalah kesehatan yang tersebar di berbagai wilayah kabupaten dan kota. Kondisi ini memerlukan perhatian serius karena berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Anemia sendiri dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Yang paling umum adalah kekurangan zat besi, vitamin B12, atau asam folat, yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk hemoglobin. Selain itu, anemia juga bisa terjadi akibat kehilangan darah, gangguan penyerapan zat besi, hingga kerusakan sumsum tulang.
Berdasarkan penyebabnya, anemia dibagi ke dalam beberapa jenis. Pertama, anemia defisiensi zat besi yang terjadi akibat kurangnya asupan atau gangguan penyerapan zat besi dalam tubuh.
Kedua, anemia pada masa kehamilan yang disebabkan meningkatnya kebutuhan zat pembentuk hemoglobin seperti zat besi, vitamin B12, dan asam folat.
Ketiga, anemia akibat perdarahan yang dapat terjadi secara perlahan maupun mendadak, misalnya akibat cedera, gangguan menstruasi, wasir, penyakit saluran pencernaan, hingga infeksi cacing tambang.
Keempat, anemia aplastik, yaitu kondisi ketika sumsum tulang tidak mampu memproduksi sel darah merah secara optimal akibat infeksi, penyakit autoimun, paparan zat kimia beracun, atau efek obat-obatan tertentu.
Kelima, anemia hemolitik, yang terjadi ketika sel darah merah dihancurkan lebih cepat daripada pembentukannya, baik karena faktor genetik maupun penyakit tertentu.
Keenam, anemia akibat penyakit kronis seperti penyakit ginjal, kanker, rheumatoid arthritis, HIV/AIDS, dan penyakit inflamasi usus.
Dan ketujuh, anemia sel sabit yang disebabkan oleh mutasi genetik pada hemoglobin, yang membuat sel darah merah berbentuk tidak normal seperti bulan sabit.
Pencegahan anemia perlu dilakukan sejak dini melalui pola makan bergizi seimbang, konsumsi makanan tinggi zat besi, serta deteksi dini untuk menghindari dampak jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat.
(Sumber:kemkes.go.id)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....