Peran Penting Zat Besi untuk Fungsi Otak dan Imunitas Tubuh
- 26 Jun 2026 15:17 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Zat besi merupakan salah satu mineral penting yang dibutuhkan tubuh untuk mendukung berbagai fungsi vital, mulai dari metabolisme energi, sistem kekebalan tubuh, hingga fungsi otak. Namun, peran terpenting zat besi adalah membantu mengangkut oksigen ke seluruh tubuh melalui sel darah merah.
Dikutip dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia kemkes.go.id tubuh manusia membutuhkan sekitar 20–25 miligram zat besi setiap hari untuk memproduksi sel darah merah secara optimal. Kekurangan asupan zat besi dapat menyebabkan anemia defisiensi besi, yang menjadi salah satu jenis anemia paling sering terjadi.
Gejala kekurangan zat besi antara lain mudah lelah dan lemah, sesak napas, detak jantung cepat (takikardia), perubahan status mental, hipotermia, hingga meningkatnya risiko infeksi.
Suplemen zat besi yang banyak beredar di pasaran umumnya tersedia dalam bentuk ferrous sulfat, ferrous glisinat, dan ferrous fumarat. Untuk memperoleh manfaat maksimal, suplemen zat besi sebaiknya dikonsumsi saat perut kosong, yaitu satu jam sebelum makan atau dua jam setelah makan.
Selain itu, konsumsi zat besi bersama vitamin C, baik dari suplemen maupun buah-buahan seperti jeruk, dapat meningkatkan penyerapannya di dalam tubuh. Namun, beberapa orang dapat mengalami efek samping berupa mual setelah mengonsumsi suplemen zat besi. Jika hal tersebut terjadi, suplemen dapat diminum sekitar dua jam setelah makan.
Kementerian Kesehatan juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mengonsumsi suplemen zat besi bersamaan dengan susu, suplemen kalsium, antasida, makanan tinggi serat, teh, kopi, atau minuman berkafein lainnya karena dapat menghambat penyerapan zat besi.
Selain itu, suplemen zat besi dapat berinteraksi dengan beberapa jenis obat, seperti metildopa, levodopa, antibiotik golongan fluoroquinolon, penisilin, dan tetrasiklin. Interaksi tersebut dapat mengurangi efektivitas obat maupun penyerapan zat besi.
Sebagai alternatif, terapi zat besi juga dapat diberikan melalui infus intravena bagi pasien tertentu, seperti mereka yang tidak dapat mengonsumsi suplemen oral, ibu hamil dengan mual dan muntah berat, pasien pascaoperasi bypass lambung, penderita gangguan penyerapan zat besi seperti penyakit celiac dan anemia pernisiosa, serta pasien dengan penyakit peradangan kronis seperti lupus dan rheumatoid arthritis.
Pentingnya pemantauan kadar zat besi dalam darah untuk menilai efektivitas terapi dan kepatuhan pasien dalam mengonsumsi suplemen. Pemeriksaan biasanya dilakukan setelah beberapa bulan terapi. Pada pasien yang menerima zat besi melalui infus, kadar zat besi umumnya akan kembali normal setelah sekitar enam minggu pengobatan.
Suplementasi zat besi dapat dihentikan apabila cadangan zat besi dan kadar transferrin dalam tubuh telah mencapai tingkat yang mencukupi sesuai hasil pemeriksaan medis.
(Sumber:kemkes.go.id)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....