Kenali Anoreksia Nervosa: Gangguan Makan Serius

  • 13 Jun 2026 08:38 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – Anoreksia nervosa merupakan gangguan makan serius yang ditandai dengan pembatasan asupan kalori secara ekstrem akibat obsesi untuk memiliki tubuh kurus. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga dapat mengancam nyawa jika tidak ditangani dengan tepat.

Mengutip informasi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia kemkes.go.id anoreksia nervosa menyebabkan penurunan berat badan yang drastis karena penderitanya melakukan diet secara berlebihan. Sebagian penderita bahkan berusaha mengeluarkan makanan yang telah dikonsumsi dengan cara memuntahkan kembali makanan atau menggunakan obat pencahar.

Meski sama-sama termasuk gangguan makan, anoreksia berbeda dengan bulimia. Penderita anoreksia umumnya memiliki kepercayaan diri yang rendah dan menganggap dirinya terlalu gemuk meskipun berat badannya sudah sangat rendah. Sementara itu, penderita bulimia cenderung melakukan muntah setelah makan berlebihan karena merasa bersalah.

Berbagai faktor dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami anoreksia, mulai dari faktor biologis, lingkungan, hingga psikologis. Beberapa di antaranya adalah kecemasan, depresi, kesulitan mengelola stres, kekhawatiran berlebihan terhadap masa depan, sifat perfeksionis, citra diri yang negatif, riwayat gangguan makan pada masa kanak-kanak, serta kondisi emosi yang mudah terpengaruh.

Gejala utama anoreksia ditandai dengan penurunan berat badan yang signifikan. Selain itu, penderita biasanya menghindari makan, berolahraga secara berlebihan, menggunakan pencahar, atau berusaha memuntahkan makanan setelah makan karena merasa bersalah.

Penurunan berat badan yang ekstrem dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, seperti kelelahan, tekanan darah rendah, pusing, gangguan menstruasi, kulit kering, suhu tubuh yang dingin, rambut rontok, hingga gangguan irama jantung. Jika tidak segera ditangani, anoreksia dapat menyebabkan komplikasi serius seperti bradikardia atau denyut jantung yang melambat, gula darah rendah, gangguan hormon kesuburan, gangguan kelenjar paratiroid, serta penurunan jumlah sel darah putih yang membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi.

Dalam penanganannya, anoreksia memerlukan pendekatan medis dan psikologis yang komprehensif. Pengobatan dapat mencakup penggunaan obat antidepresan untuk membantu mengatasi gejala kecemasan dan depresi yang sering menyertai kondisi tersebut.

Selain itu, terapi psikologis seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), terapi keluarga, dan Acceptance and Commitment Therapy (ACT) menjadi bagian penting dalam proses pemulihan. Terapi ini bertujuan membantu pasien mengenali dan mengubah pola pikir negatif serta perilaku yang merugikan kesehatan.

Peran ahli gizi juga sangat diperlukan untuk memberikan edukasi mengenai pola makan sehat dan menyusun rencana makan yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi pasien. Pada kasus yang lebih berat, pasien mungkin memerlukan perawatan di rumah sakit guna mendapatkan nutrisi dan cairan melalui infus serta pemantauan medis secara intensif.

Meski belum ada metode khusus untuk mencegah anoreksia, sejumlah langkah dapat dilakukan untuk mengurangi risikonya. Di antaranya melalui pendidikan tentang pola makan sehat, promosi citra diri yang positif, komunikasi terbuka mengenai kesehatan dan bentuk tubuh, intervensi sejak dini ketika gejala mulai muncul, serta dukungan psikologis yang berkelanjutan.

Semakin cepat anoreksia dikenali dan ditangani, semakin besar peluang penderita untuk pulih dan kembali menjalani kehidupan yang sehat.

(Sumber:kemkes.go.id)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....