Waspada Serat Asbes Sumber Risiko Kesehatan

  • 05 Jun 2026 20:30 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – Bahaya asbes masih kerap diabaikan masyarakat meskipun material bangunan ini dapat menimbulkan berbagai penyakit serius. Asbes yang mulai menua, retak, lapuk, atau mengalami benturan seperti saat dipotong dan digergaji dapat melepaskan serat-serat halus ke udara. Serat tersebut mudah terhirup tanpa disadari dan dapat menetap di dalam tubuh dalam jangka waktu yang sangat lama.

Mengutip informasi dari polri.go.id masyarakat dianjurkan untuk menghindari penggunaan asbes yang sudah rusak karena berpotensi membahayakan kesehatan, terutama sistem pernapasan.

Asbes sendiri merupakan mineral yang memiliki ketahanan tinggi terhadap panas dan api sehingga banyak digunakan sebagai bahan bangunan, terutama atap rumah. Namun, ketika material ini rusak atau hancur, serat dan debu halus yang dihasilkannya dapat masuk ke saluran pernapasan dan mengendap di paru-paru.

Paparan asbes dalam jangka panjang diketahui dapat menyebabkan sejumlah penyakit berbahaya. Salah satunya adalah asbestosis, yakni penyakit paru-paru yang terjadi akibat penumpukan serat asbes selama bertahun-tahun. Kondisi ini menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada paru-paru sehingga organ tersebut menjadi kaku dan kehilangan elastisitasnya. Akibatnya, penderita dapat mengalami kesulitan bernapas hingga gagal napas.

Selain itu, paparan asbes juga meningkatkan risiko kanker paru-paru, terutama pada individu yang memiliki kebiasaan merokok. Serat asbes yang tertanam dalam jaringan paru-paru dapat memicu perubahan sel normal menjadi sel kanker. Gejala yang sering muncul antara lain batuk berkepanjangan, nyeri dada, penurunan berat badan, dan batuk berdarah.

Risiko lain yang tidak kalah serius adalah mesotelioma, yaitu kanker langka dan agresif yang menyerang selaput pelindung organ dalam tubuh. Sebagian besar kasus mesotelioma berkaitan erat dengan paparan asbes, bahkan dalam jumlah kecil. Penyakit ini umumnya berkembang sangat lambat dan baru terdeteksi setelah puluhan tahun, ketika kondisinya sudah memasuki stadium lanjut.

Di samping penyakit berat tersebut, serat asbes yang terhirup juga dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan. Penderita biasanya mengalami batuk kronis, produksi dahak berlebih, nyeri dada, dan sesak napas saat beraktivitas. Pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, kondisi ini dapat memperparah gangguan pernapasan yang sudah ada sebelumnya.

Tidak hanya berdampak pada paru-paru, paparan asbes juga berpotensi memengaruhi organ lain. Serat asbes yang tertelan secara tidak sengaja dapat mengiritasi saluran pencernaan dan meningkatkan risiko gangguan pencernaan, termasuk kanker usus. Beberapa penelitian juga mengaitkan paparan jangka panjang asbes dengan peningkatan risiko kanker laring dan kanker ovarium.

Melihat berbagai risiko tersebut, masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan maupun menangani material yang mengandung asbes. Penggantian asbes yang sudah tua atau rusak dengan bahan yang lebih aman dinilai sebagai langkah penting untuk mengurangi risiko paparan dan melindungi kesehatan keluarga.

(Sumber:tribratanews.polri.go.id)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....