Gangguan Kecemasan Bisa Dipicu Kebiasaan Harian
- 18 Mei 2026 16:31 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Perasaan cemas atau panik merupakan hal yang normal dan dapat dialami siapa saja, terutama ketika seseorang menghadapi ancaman atau situasi yang tidak nyaman. Namun, jika rasa cemas muncul secara berlebihan dan terus-menerus, kondisi tersebut bisa berkembang menjadi gangguan kecemasan yang berdampak pada kesehatan mental.
Dikutip dari polri.go.id setiap orang mungkin pernah merasakan kecemasan. Bagi sebagian orang, rasa cemas dapat cepat berlalu, tetapi bagi lainnya, perasaan tersebut menjadi pendamping yang konstan dalam kehidupan sehari-hari.
Gangguan kecemasan tidak hanya menimbulkan rasa panik dan takut berlebihan, tetapi juga dapat disertai berbagai gejala lain yang mengganggu aktivitas. Karena itu, penting untuk mengetahui kebiasaan yang dapat memicu kecemasan agar dapat melakukan pencegahan sejak dini.
Beberapa kebiasaan yang dinilai dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan:
- Mengecek Ponsel Saat Bangun Tidur
Kebiasaan langsung membuka ponsel sesaat setelah bangun tidur dapat membuat otak dibanjiri berbagai informasi sejak pagi hari. Unggahan media sosial, berita, hingga email pekerjaan dapat memicu rasa cemas terhadap berbagai hal yang harus diselesaikan.
Kondisi ini membuat tubuh dan pikiran tidak memiliki waktu untuk bangun secara perlahan. Para ahli menyarankan untuk memberi jeda sebelum membuka ponsel, misalnya dengan melakukan peregangan, meditasi ringan, atau menikmati secangkir kopi terlebih dahulu. - Meremehkan Waktu
Sebagian orang sering kesulitan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, terutama mereka yang memiliki sifat perfeksionis atau terlalu banyak bekerja. Kebiasaan meremehkan waktu dapat membuat seseorang terus merasa terburu-buru dan akhirnya memicu stres serta kecemasan.
Untuk mengatasinya, disarankan membuat batas waktu yang lebih longgar. Misalnya, jika suatu pekerjaan diperkirakan selesai dalam 10 menit, cobalah menyediakan waktu hingga 20 menit agar pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih tenang. - Terlalu Sering Menonton Berita
Mengonsumsi berita secara berlebihan juga dapat meningkatkan kecemasan. Terlebih jika informasi yang diterima didominasi kabar buruk atau peristiwa yang menegangkan.
Kondisi ini dapat membuat seseorang berada dalam keadaan waspada secara terus-menerus dan memandang dunia sebagai tempat yang berbahaya. Selain berdampak pada kesehatan mental, kebiasaan ini juga berpengaruh terhadap kondisi fisik seseorang. - Berkonfrontasi di Media Sosial
Perdebatan atau konflik di media sosial ternyata juga berpotensi memicu kecemasan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengurangi penggunaan media sosial, bahkan hanya selama satu pekan, dapat membantu menurunkan tingkat kecemasan dan meningkatkan rasa nyaman.
Jika belum siap berhenti sepenuhnya, pengguna dapat mulai dengan membatasi interaksi negatif atau mengurangi waktu penggunaan media sosial setiap hari. - Tidak Bernapas dengan Dalam
Pola napas yang terlalu cepat dan dangkal sering kali muncul saat seseorang merasa cemas. Kondisi ini berkaitan erat dengan respons tubuh terhadap stres atau yang dikenal sebagai respons “melawan atau lari”.
Saat kecemasan muncul, detak jantung meningkat, otot menegang, dan tubuh menjadi lebih siaga. Karena itu, latihan pernapasan dalam dapat membantu tubuh menjadi lebih rileks dan mengurangi rasa cemas.
Gangguan kecemasan sebaiknya tidak dianggap sepele. Jika dibiarkan terus-menerus, kondisi ini dapat berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius. Mengenali pemicu dan mengubah kebiasaan buruk menjadi langkah awal untuk menjaga kesehatan mental tetap baik.
(Sumber:tribratanews.polri.go.id)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....