Depresi pada Anak: Dari Perubahan Emosi hingga Risiko Serius

  • 13 Mei 2026 15:53 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Masa kanak-kanak seharusnya menjadi masa yang penuh keceriaan, bermain, belajar, dan tumbuh bersama keluarga maupun teman sebaya. Namun kini, semakin banyak anak dan remaja yang mengalami tekanan emosional hingga berujung pada depresi. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena dapat memengaruhi kehidupan sosial, pendidikan, hingga kesehatan mental anak dalam jangka panjang.

Depresi bukan hanya dialami oleh orang dewasa. Anak-anak dan remaja juga dapat mengalami gangguan kesehatan mental ini. Bahkan, kasus depresi pada anak dan remaja dilaporkan terus meningkat dari tahun ke tahun. Berbagai faktor seperti pengaruh media sosial, kekerasan, bencana alam, perubahan iklim, hingga polarisasi politik disebut ikut berkontribusi terhadap meningkatnya angka depresi di kalangan generasi muda.

Perasaan sedih atau murung sebenarnya merupakan hal yang wajar dalam proses tumbuh kembang anak. Akan tetapi, kondisi tersebut dapat menjadi masalah apabila berlangsung secara intens dan berkepanjangan, terlebih jika memengaruhi aktivitas sehari-hari anak di rumah, sekolah, maupun lingkungan pergaulan.

Anak yang mengalami depresi umumnya kesulitan merasa optimis, kehilangan semangat, dan tidak lagi menikmati hal-hal yang sebelumnya mereka sukai. Kondisi ini sering kali tidak disadari oleh orang tua karena tanda-tandanya berbeda dengan depresi pada orang dewasa.

Salah satu tanda utama depresi pada anak adalah anak tampak mudah marah dan tersinggung. Pada beberapa kasus, depresi muncul dalam bentuk ledakan emosi atau kemarahan. Anak bisa tiba-tiba menjadi sensitif, mudah membantah, bahkan menunjukkan perilaku agresif baik di rumah maupun di sekolah. Kondisi ini kerap disalahartikan sebagai kenakalan atau masalah perilaku biasa.

Selain itu, anak yang mengalami depresi juga cenderung mengasingkan diri. Mereka mulai menarik diri dari lingkungan sosial, enggan bermain bersama teman, dan kehilangan minat terhadap kegiatan yang sebelumnya disukai. Dalam dunia psikologi, kondisi ini dikenal dengan istilah anhedonia, yaitu hilangnya rasa senang terhadap aktivitas yang biasanya menyenangkan.

Perubahan pola makan juga perlu menjadi perhatian orang tua. Anak yang mengalami depresi dapat makan jauh lebih sedikit atau justru lebih banyak dari biasanya. Perubahan nafsu makan yang berlangsung terus-menerus hingga memengaruhi berat badan bisa menjadi salah satu tanda adanya gangguan depresi.

Tidak hanya itu, pola tidur anak juga dapat berubah. Sebagian anak menjadi lebih sering tidur, sementara yang lain mengalami kesulitan tidur atau sering terbangun di malam hari. Gangguan tidur ini tidak hanya menjadi gejala depresi, tetapi juga dapat meningkatkan risiko munculnya depresi yang lebih berat.

Di lingkungan sekolah, depresi dapat terlihat dari menurunnya prestasi akademik anak. Nilai pelajaran yang terus merosot, sulit berkonsentrasi, kehilangan motivasi belajar, hingga sering tidak masuk sekolah bisa menjadi tanda bahwa anak sedang mengalami tekanan mental yang serius.

Secara umum, depresi merupakan gangguan suasana hati yang melibatkan komponen psikologis dan somatik. Komponen psikologis meliputi perasaan murung, sedih, putus asa, tidak bahagia, dan kehilangan harapan. Sementara komponen somatik dapat berupa gangguan fisik seperti hilangnya nafsu makan, tubuh terasa lemas, gangguan pencernaan, kulit terasa dingin, hingga tekanan darah menurun.

Gejala depresi pada anak dan remaja sering kali terlihat dari perubahan sikap dan perilaku. Anak yang biasanya ceria, aktif bermain, dan mudah bergaul bisa berubah menjadi pendiam, pemurung, dan suka menyendiri. Jika perubahan ini terjadi dalam waktu cukup lama, orang tua perlu lebih waspada.

Kondisi depresi yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan dampak serius. Dalam beberapa kasus, anak atau remaja yang mengalami depresi dapat dengan mudah mengatakan ingin mati atau berbicara mengenai bunuh diri. Mereka juga berisiko terjerumus pada kebiasaan buruk seperti penyalahgunaan alkohol maupun obat-obatan terlarang.

Depresi bukanlah kelemahan pribadi, melainkan kondisi kesehatan mental yang membutuhkan perhatian dan penanganan yang tepat. Depresi dapat bersifat ringan dan sementara, namun juga bisa menjadi berat dan berkepanjangan apabila tidak segera ditangani.

Depresi pada anak dan remaja merupakan masalah kesehatan mental yang nyata dan tidak boleh dianggap sepele. Dukungan keluarga, perhatian dari lingkungan sekolah, serta komunikasi yang terbuka menjadi langkah penting dalam membantu anak menghadapi kondisi ini.

Orang tua diharapkan lebih peka terhadap perubahan perilaku anak dan tidak ragu mencari bantuan profesional apabila menemukan tanda-tanda depresi. Dengan dukungan yang tepat, depresi dapat diatasi dan risiko yang lebih buruk, termasuk tindakan bunuh diri, dapat dicegah.

Karena itu, menjaga kesehatan mental anak sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik mereka. Anak-anak membutuhkan lingkungan yang aman, dukungan emosional, dan perhatian agar dapat tumbuh menjadi generasi yang sehat, kuat, dan bahagia.

(Sumber:tribratanews.polri.go.id)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....