Wanita Lebih Rentan Kenali Gejala Serangan Jantung sejak Dini

  • 13 Mei 2026 15:51 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Masalah penyakit jantung dan pembuluh darah masih menjadi tantangan serius dalam dunia kesehatan, baik secara global maupun di Indonesia. Salah satu penyebab kematian tertinggi berasal dari serangan jantung dan stroke. Kondisi ini perlu menjadi perhatian masyarakat karena serangan jantung tidak hanya menyerang pria, tetapi juga memiliki risiko lebih berbahaya pada wanita.

Serangan jantung atau infark miokard terjadi ketika aliran darah yang membawa oksigen ke otot jantung terhenti atau berkurang secara signifikan. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah koroner akibat penumpukan lemak, kolesterol, dan zat lain yang membentuk plak atau aterosklerosis. Jika plak pecah, maka akan terbentuk gumpalan darah yang dapat menghambat aliran darah menuju jantung dan menyebabkan kerusakan jaringan otot jantung.

Dibandingkan pria, serangan jantung pada wanita sering kali lebih sulit dikenali karena gejalanya tidak selalu berupa nyeri dada yang khas. Wanita dapat mengalami gejala lain seperti sesak napas, mual, muntah, nyeri punggung, nyeri rahang bawah, keringat dingin, hingga sakit kepala. Gejala tersebut kerap muncul saat istirahat atau tidur dan sering dipicu oleh stres emosional sehingga tidak jarang terlambat ditangani.

Selain itu, wanita cenderung mengalami penyumbatan pada pembuluh darah kecil sehingga tanda-tanda serangan jantung tampak samar. Kurangnya kesadaran masyarakat dan tenaga kesehatan mengenai perbedaan gejala pada wanita juga menjadi tantangan dalam deteksi dini penyakit ini.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko serangan jantung pada wanita antara lain diabetes, stres emosional dan depresi, kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, menopause, komplikasi kehamilan, riwayat keluarga dengan penyakit jantung, hingga penyakit inflamasi seperti lupus dan rheumatoid arthritis. Kondisi medis seperti obesitas, tekanan darah tinggi, dan penyakit pembuluh darah tepi juga turut memperbesar risiko.

Untuk mencegah serangan jantung, masyarakat dianjurkan menerapkan pola hidup sehat dengan rutin memeriksa kesehatan seperti tekanan darah dan gula darah, menghindari rokok, berolahraga secara teratur, mengelola stres, menerapkan pola makan seimbang, serta mencukupi waktu istirahat.

Masyarakat juga perlu memahami perbedaan antara serangan jantung dan henti jantung. Serangan jantung terjadi akibat terhambatnya aliran darah ke jantung, sedangkan henti jantung disebabkan gangguan listrik yang membuat jantung berhenti berdetak. Meski keduanya berbeda, serangan jantung dapat memicu henti jantung jika tidak segera ditangani.

Karena itu, apabila mengalami gejala yang mengarah pada serangan jantung, masyarakat diimbau segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau mendatangi fasilitas kesehatan terdekat agar mendapatkan penanganan sedini mungkin.

(Sumber:kemkes.go.id)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....