Luruskan Mitos, Imunisasi Jadi Perlindungan Utama Kesehatan

  • 11 Mei 2026 05:07 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Imunisasi masih menjadi salah satu langkah paling efektif dalam mencegah berbagai penyakit menular. Meski demikian, di tengah masyarakat masih beredar berbagai mitos yang membuat sebagian orang ragu untuk melakukannya. Padahal, para tenaga kesehatan menegaskan bahwa imunisasi aman, telah melalui pengujian ketat, dan memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan individu maupun masyarakat.

Imunisasi merupakan proses pembentukan kekebalan tubuh terhadap penyakit tertentu melalui pemberian vaksin. Vaksin sendiri adalah agen biologis yang mengandung bakteri atau virus yang telah dilemahkan atau dimatikan, atau bagian kecil dari kuman penyebab penyakit, sehingga tidak menimbulkan penyakit, namun mampu merangsang sistem imun tubuh untuk membentuk perlindungan.

Berdasarkan informasi dari laman kemkes.go.id berbagai mitos tentang imunisasi masih sering ditemukan di masyarakat dan perlu diluruskan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman yang dapat berdampak pada rendahnya cakupan vaksinasi.

Salah satu mitos yang beredar adalah anggapan bahwa imunisasi hanya diperlukan oleh bayi dan anak-anak. Faktanya, imunisasi dibutuhkan sepanjang siklus hidup manusia. Remaja, orang dewasa, hingga lansia tetap memerlukan vaksin tertentu seperti influenza, hepatitis, atau HPV, sesuai dengan kondisi dan risiko masing-masing individu.

Mitos lain menyebutkan bahwa seseorang yang sudah sehat tidak memerlukan imunisasi. Tenaga kesehatan menegaskan bahwa justru imunisasi diberikan saat kondisi tubuh sehat untuk membentuk perlindungan sebelum penyakit datang. Menunggu hingga sakit hanya akan membuat perlindungan menjadi terlambat.

Selain itu, masih ada anggapan bahwa imunisasi dapat menyebabkan penyakit yang justru ingin dicegah. Hal ini dibantah oleh para ahli kesehatan. Vaksin tidak menyebabkan penyakit karena tidak mengandung kuman aktif penyebab penyakit, melainkan sudah dilemahkan atau hanya berupa bagian tertentu yang aman bagi tubuh.

Kekhawatiran terhadap efek samping juga menjadi salah satu alasan keraguan masyarakat. Namun, berdasarkan penjelasan tenaga kesehatan, efek samping imunisasi umumnya ringan dan sementara, seperti demam ringan atau nyeri di area suntikan. Reaksi serius sangat jarang terjadi dan terus dipantau secara ketat oleh petugas kesehatan.

Mitos lain yang juga masih berkembang adalah anggapan bahwa vaksin tidak halal atau tidak aman. Pemerintah memastikan bahwa seluruh vaksin yang digunakan di Indonesia telah melalui proses pengawasan ketat, dan sebagian besar telah memperoleh sertifikasi halal. Selain itu, aspek keamanan dan kualitas vaksin juga diuji sebelum diedarkan ke masyarakat.

Ada pula anggapan bahwa anak yang jarang keluar rumah tidak perlu imunisasi. Hal ini keliru, karena kuman penyakit dapat menyebar melalui udara, kontak dengan orang lain, maupun lingkungan sekitar. Dengan demikian, risiko tetap ada meskipun seseorang lebih banyak berada di dalam rumah.

Sementara itu, kepercayaan bahwa lebih baik terkena penyakit secara alami agar kebal juga dianggap berbahaya. Infeksi alami justru dapat menimbulkan komplikasi serius, bahkan berujung pada kematian. Imunisasi dinilai memberikan perlindungan tanpa harus melalui risiko sakit berat.

Mitos lain yang telah lama beredar adalah kaitan antara imunisasi dan autisme. Berbagai penelitian ilmiah telah membantah klaim tersebut dan tidak menemukan bukti adanya hubungan antara vaksin dan autisme.

Selain itu, masih ada anggapan bahwa seseorang tidak perlu imunisasi jika orang lain sudah melakukannya. Para ahli menjelaskan bahwa kekebalan kelompok atau herd immunity hanya akan efektif jika sebagian besar masyarakat turut berpartisipasi dalam imunisasi. Jika banyak yang tidak ikut serta, maka perlindungan bersama akan melemah.

Mitos terakhir yang sering muncul adalah anggapan bahwa imunisasi mahal dan tidak penting. Faktanya, banyak vaksin dasar yang tersedia secara gratis di fasilitas kesehatan pemerintah. Selain itu, biaya imunisasi jauh lebih murah dibandingkan biaya pengobatan jika seseorang terlanjur terkena penyakit.

Masyarakat untuk lebih selektif dalam menerima informasi dan tidak mudah percaya pada mitos yang tidak memiliki dasar ilmiah. Edukasi yang tepat dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan kesadaran bahwa imunisasi merupakan langkah pencegahan yang sangat penting.

Dengan memahami fakta yang benar, masyarakat diharapkan tidak lagi ragu untuk melakukan imunisasi demi melindungi diri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Seperti pepatah kesehatan yang terus digaungkan, mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.

(Sumber:kemkes.go.id)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....