Jangan Tunggu Nanti, Kenali "Red Flag" Autisme pada Anak sejak Dini
- 19 Apr 2026 08:56 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Masih banyak orang tua yang merasa bingung ketika buah hatinya belum bisa berbicara di usia yang seharusnya. Sering kali, kondisi ini hanya dianggap sebagai keterlambatan bicara biasa (speech delay), padahal bisa jadi merupakan tanda awal dari Gangguan Spektrum Autisme (GSA).
Dalam talkshow "Keluarga Sehat" Radio Kesehatan Kemenkes RI, Pakar Neurologi Anak dari RSAB Harapan Kita, dr. Pandu Caesaria Lestari, Sp.A, Subsp.Neurologi(K), menekankan pentingnya kesadaran orang tua untuk melakukan deteksi dini. Autisme bukanlah penyakit menular, melainkan gangguan perkembangan saraf yang kompleks.
Menurut dr. Pandu, autisme ditandai dengan hambatan interaksi sosial, gangguan komunikasi, serta perilaku yang repetitif atau berulang. Ia membagikan beberapa tanda bahaya (red flag) yang harus diwaspadai orang tua:
- Usia 12 Bulan: Belum ada satu kata pun yang bermakna (bukan sekadar ocehan).
- Usia 18 Bulan: Belum bisa menunjuk benda dengan telunjuk untuk menunjukkan keinginan atau ketertarikan.
- Usia 24 Bulan: Belum menguasai minimal 25 kata atau belum bisa merangkai dua kata (misal: "minta susu").
- Interaksi Sosial: Anak sulit melakukan kontak mata dan sering tidak merespons saat dipanggil namanya.
Perilaku: Anak memiliki kebiasaan repetitif yang tidak fungsional, seperti hanya memutar-mutar roda mobil mainan alih-alih menjalankannya.
"Kalau anak sulit dipanggil meskipun kita sudah berteriak atau mencoleknya, itu adalah kondisi yang harus segera dipastikan. Jangan berpikir 'nanti juga bisa', segera cari jawaban ke tenaga profesional," kata dr. Pandu.
Membedakan Autisme dengan "Speech Delay" Biasa
Sering kali orang tua terkecoh karena anak dianggap pintar menyanyi atau menghafal lagu dari gadget, namun tidak bisa diajak komunikasi dua arah. dr. Pandu menjelaskan bahwa kemampuan melantunkan lagu belum tentu berarti kemampuan komunikasi.
"Anak autisme mungkin bisa menyanyi dengan lengkap, tapi tidak bisa berkomunikasi dua arah. Komunikasi itu butuh interaksi, sementara mereka memiliki kesulitan di situ," katanya menjelaskan.
Oleh karena itu, ia sangat menyarankan orang tua untuk memanfaatkan kunjungan rutin ke dokter spesialis anak pada usia 18 dan 24 bulan untuk melakukan screening perkembangan bahasa, bukan hanya sekadar untuk vaksinasi.
dr. Pandu juga meluruskan berbagai mitos yang berkembang di masyarakat, salah satunya mengenai diet bebas gluten dan hubungannya dengan vaksin MMR.
"Penelitian besar di Indonesia sudah menunjukkan tidak ada hubungannya antara gluten dengan autisme. Begitu juga dengan vaksin, tidak ada bukti vaksin tertentu menyebabkan autisme," katanya.
Ia pun mengingatkan bahwa tidak ada obat khusus untuk menyembuhkan autisme, namun interaksi dan terapi yang tepat dapat membantu anak berkembang optimal. Diagnosis autisme bukanlah akhir dari segalanya, melainkan langkah awal untuk memberikan intervensi yang tepat bagi anak.
Dengan deteksi dini dan lingkungan yang inklusif, anak-anak dengan spektrum autisme tetap memiliki kesempatan besar untuk belajar bersosialisasi dan mandiri di masa depan. Orang tua diharapkan tidak menunda pemeriksaan jika menemukan satu saja tanda bahaya pada tumbuh kembang sang buah hati.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....